ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN


2014-09-4 09:04:34 | author : admin

 

ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM PEMBELAJARAN
A. Pengertian Analisis Kebutuhan Sistem Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran memiliki posisi strategis dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia sebagaimana yang di cita citakan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dengan kata lain, pembelajaran adalah usaha untuk membuat peserta didik belajar. Pembelajaran merupakan jantungnya aktivitas pendidikan, sehingga pembelajaran menempati posisi dan peranan yang sangat penting. Di dalam kegiatan pembelajaran inilah terjadi proses transmisi dan transformasi pengalaman belajar kepada peserta didik sesuai kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu, apabila sistem pendidikan nasional ingin lebih berorientasi kepada penyiapan sumberdaya manusia era informasi maka yang terlebih dahulu dilakukan adalah pengembangan sistem pembelajarannya. 
Apa sistem pembelajaran itu? Menurut Gagne (1979) dalam Suparman (2004) sistem pembelajaran adalah suatu set peristiwa yang mempengaruhi peserta didik sehingga terjadi proses belajar. Nah, suatu set peristiwa itu mungkin digerakkan oleh guru sehingga disebut pembelajaran mungkin digerakkan oleh peserta didik itu sendiri dengan menggunakan buku, modul, siaran televisi pendidikan, siaran radio pendidikan, multimedia pembelajaran, e-learning, atau kombinasi dari berbagai media. Baik digerakkan oleh guru maupun peserta didik sendiri, kegiatan itu haruslah terencana secara sistematis untuk dapat disebut kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, bentuk nyata dari sistem pembelajaran adalah satu set bahan belajar atau strategi pembelajaran yang telah teruji secara efektif dan efisien di lapangan. Dengan kata lain, satu set peristiwa yang memfasilitasi peserta didik untuk belajar atau memudahkan peserta didik belajar. 
Pengembangan sistem pembelajaran diawali dengan kegiatan analisis kebutuhan. Apa kegiatan analisis kebutuhan itu? Kegiatan analisis kebutuhan (needs assessment) adalah suatu kegiatan ilmiah yang melibatkan berbagai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber informasi untuk mengetahui kesenjangan (gap) antara keadaan yang seharusnya terjadi (ideal) dengan keadaan yang senyatanya terjadi (reality). 
Didalam ensiklopedia evaluasi yang disusun oleh Anderson,dkk. analisis kebutuhan diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas. Need Assessment (analisis kebutuhan) adalah suatu cara atau metode untuk mengetahui perbedaan antara kondisi yang diinginkan/seharusnya atau diharapkan dengan kondisi yang ada. Kondisi yang diinginkan seringkali disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi yang ada, seringkali disebut dengan kondisi riil atau kondisi nyata. Oleh karena itu, analisis kebutuhan adalah gambaran tentang kondisi yang terjadi saat ini (real condition) yang dibandingkan dengan kondisi seharunya dilengkapi dengan rekomendasi model solusi untuk mengatasi kesenjangan antara situasi yang senyatanya terjadi dengan kondisi yang seharusnya terjadi. Need Assessment dapat diterapkan pada individu, kelompok atau lembaga (institusi). 
Roger Kaufman & Fenwick W. English (1979), mendefinisikan analisis kebutuhan sebagai suatu proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini dalam skala prioritas, lalu memilih hal yang lebih penting untuk diselesaikan masalahnya. Maka analisis kebutuhan adalah alat atau metode untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan atau solusi yang tepat. Dalam konteks pendidikan kebutuhan dimaksud diartikan sebagai suatu kondisi yang memperlihatkan adanya kesenjangan antara kenyaataan yang ada dengan kondisi yang diharapkan. “Kebutuhan” diartikan sebagai jarak antara keluaran yang nyata dengan keluaran yang diinginkan. 
Kesenjangan merupakan sebuah permasalahan yang harus dipecahkan. Oleh karena itu, kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang sistem pembelajaran, sehingga sistem pembelajaran yang dikembangkan merupakan suatu solusi terbaik. Bila kesenjangan tersebut dapat menimbulkan akibat dan dampak yang besar, maka perlu diprioritaskan dalam pengatasan masalah (Dick and Carey,1990). Nah, apabila kesenjangan tersebut dianggap sebagai suatu masalah yang memerlukan pemecahan, maka kesenjangan tersebut dianggap sebagai suatu kebutuhan (needs). 
Apa kebutuhan itu? Kebutuhan adalah kesenjangan keadaan saat ini dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya (Suparman, 2004). Dengan kata lain, setiap keadaan yang kurang dari yang seharusnya menunjukkan adanya kebutuhan. Apabila kesenjangan itu besar atau menimbulkan akibat lebih jauh sehingga perlu ditempatkan sebagai prioritas untuk diatasi, kebutuhan itu disebut masalah. 
Selanjutnya coba Anda berikan contoh! Misalnya di daerah-daerah terlihat meningkatnya kesadaran akan pentingnya pembelajaran Bahasa Inggris, terutama di daerah tujuan wisata dan daerah yang banyak memiliki industri Penanaman Modal Asing (PMA). Kesadaran tersebut dipicu oleh adanya kebutuhan kemampuan berkomunikasi dengan orang asing yang menyebabkan tingginya tuntutan penguasaan Bahasa Inggris bagi sebagian besar warganya. Oleh karena itu, berdasarkan adanya kebutuhan tersebut pada beberapa daerah telah mengajarkan Bahasa Inggris sebagai muatan lokal pilihan di jenjang SD. Beberapa studi empiris menunjukan bahwa pembelajaran dan pemerolehan bahasa asing akan lebih baik apabila dilakukan secara dini. Berdasarkan hal itu berkembang pemikiran bahwa pembelajaran Bahasa Inggris seyogyanya sudah dilakukan pada tingkat SD. Masalahnya beberapa sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran bahasa Inggris di SD banyak diantara guru yang mengajar tersebut belum mempunyai kompetensi sebagai pengajar bahasa Inggris, karena sebagian besar mereka adalah guru kelas dengan latar belakang pendidikan DII PGSD guru kelas. Di antara pendidik tersebut juga ada yang berlatar bahasa Inggris tetapi tidak punya kompetensi mengajar di SD. Untuk itu perlu pengembangan program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bahasa Inggris Guru SD sistem jarak jauh. 
Selain itu, kebutuhan (need) dapat diartikan pula sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya. Kebutuhan dapat dirumuskan pula sebagai jurang antara “apa yang ada” dan “apa yang seharusnya ada” dalam pengertian hasil (Kaufman,1972). Kemudian apa keinginan itu? Keinginan adalah harapan ke depan atau citacita yang terkait dengan pemecahan suatu masalah. 
Namun, perlu Anda ingat tidak semua kebutuhan dan masalah dapat disebut kebutuhan pembelajaran, karena belum tentu memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Coba Anda berikan contoh!. Misalnya peserta didik protes karena sukar membaca dan mempelajari buku pelajaran bahasa Inggris yang di cetak dan diterbitkan suatu penerbit. Setelah diteliti ternyata cetakan buku tersebut kurang bagus dan ada sebagian halaman yang rusak. Hal ini disebabkan karena mesin yang digunakan oleh pencetakan tidak dapat berfungsi dengan baik. Masalahnya adalah mesin percetakan kurang berfungsi dengan baik. Untuk itu perlu adanya perbaikan atau penggantian beberapa peralatan mesin tersebut. 
Nah, sekarang apa kebutuhan pembelajaran itu? Kebutuhan pembelajaran adalah kebutuhan yang memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan instruksional/pembelajaran. Sebagai contoh! Anda perhatikan tabel analisis kebutuhan sebagai berikut: 

A. Pengertian Analisis Kebutuhan Sistem PembelajaranKegiatan pembelajaran memiliki posisi strategis dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia sebagaimana yang di cita citakan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dengan kata lain, pembelajaran adalah usaha untuk membuat peserta didik belajar. Pembelajaran merupakan jantungnya aktivitas pendidikan, sehingga pembelajaran menempati posisi dan peranan yang sangat penting. Di dalam kegiatan pembelajaran inilah terjadi proses transmisi dan transformasi pengalaman belajar kepada peserta didik sesuai kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu, apabila sistem pendidikan nasional ingin lebih berorientasi kepada penyiapan sumberdaya manusia era informasi maka yang terlebih dahulu dilakukan adalah pengembangan sistem pembelajarannya. 


Apa sistem pembelajaran itu? Menurut Gagne (1979) dalam Suparman (2004) sistem pembelajaran adalah suatu set peristiwa yang mempengaruhi peserta didik sehingga terjadi proses belajar. Nah, suatu set peristiwa itu mungkin digerakkan oleh guru sehingga disebut pembelajaran mungkin digerakkan oleh peserta didik itu sendiri dengan menggunakan buku, modul, siaran televisi pendidikan, siaran radio pendidikan, multimedia pembelajaran, e-learning, atau kombinasi dari berbagai media. Baik digerakkan oleh guru maupun peserta didik sendiri, kegiatan itu haruslah terencana secara sistematis untuk dapat disebut kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, bentuk nyata dari sistem pembelajaran adalah satu set bahan belajar atau strategi pembelajaran yang telah teruji secara efektif dan efisien di lapangan. Dengan kata lain, satu set peristiwa yang memfasilitasi peserta didik untuk belajar atau memudahkan peserta didik belajar. 


Pengembangan sistem pembelajaran diawali dengan kegiatan analisis kebutuhan. Apa kegiatan analisis kebutuhan itu? Kegiatan analisis kebutuhan (needs assessment) adalah suatu kegiatan ilmiah yang melibatkan berbagai teknik pengumpulan data dari berbagai sumber informasi untuk mengetahui kesenjangan (gap) antara keadaan yang seharusnya terjadi (ideal) dengan keadaan yang senyatanya terjadi (reality). 


Didalam ensiklopedia evaluasi yang disusun oleh Anderson,dkk. analisis kebutuhan diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas. Need Assessment (analisis kebutuhan) adalah suatu cara atau metode untuk mengetahui perbedaan antara kondisi yang diinginkan/seharusnya atau diharapkan dengan kondisi yang ada. Kondisi yang diinginkan seringkali disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi yang ada, seringkali disebut dengan kondisi riil atau kondisi nyata. Oleh karena itu, analisis kebutuhan adalah gambaran tentang kondisi yang terjadi saat ini (real condition) yang dibandingkan dengan kondisi seharunya dilengkapi dengan rekomendasi model solusi untuk mengatasi kesenjangan antara situasi yang senyatanya terjadi dengan kondisi yang seharusnya terjadi. Need Assessment dapat diterapkan pada individu, kelompok atau lembaga (institusi). 


Roger Kaufman & Fenwick W. English (1979), mendefinisikan analisis kebutuhan sebagai suatu proses formal untuk menentukan jarak atau kesenjangan antara keluaran dan dampak yang nyata dengan keluaran dan dampak yang diinginkan, kemudian menempatkan deretan kesenjangan ini dalam skala prioritas, lalu memilih hal yang lebih penting untuk diselesaikan masalahnya. Maka analisis kebutuhan adalah alat atau metode untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan atau solusi yang tepat. Dalam konteks pendidikan kebutuhan dimaksud diartikan sebagai suatu kondisi yang memperlihatkan adanya kesenjangan antara kenyaataan yang ada dengan kondisi yang diharapkan. “Kebutuhan” diartikan sebagai jarak antara keluaran yang nyata dengan keluaran yang diinginkan. 


Kesenjangan merupakan sebuah permasalahan yang harus dipecahkan. Oleh karena itu, kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang sistem pembelajaran, sehingga sistem pembelajaran yang dikembangkan merupakan suatu solusi terbaik. Bila kesenjangan tersebut dapat menimbulkan akibat dan dampak yang besar, maka perlu diprioritaskan dalam pengatasan masalah (Dick and Carey,1990). Nah, apabila kesenjangan tersebut dianggap sebagai suatu masalah yang memerlukan pemecahan, maka kesenjangan tersebut dianggap sebagai suatu kebutuhan (needs). Apa kebutuhan itu? Kebutuhan adalah kesenjangan keadaan saat ini dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya (Suparman, 2004). Dengan kata lain, setiap keadaan yang kurang dari yang seharusnya menunjukkan adanya kebutuhan. Apabila kesenjangan itu besar atau menimbulkan akibat lebih jauh sehingga perlu ditempatkan sebagai prioritas untuk diatasi, kebutuhan itu disebut masalah. 


Selanjutnya coba Anda berikan contoh! Misalnya di daerah-daerah terlihat meningkatnya kesadaran akan pentingnya pembelajaran Bahasa Inggris, terutama di daerah tujuan wisata dan daerah yang banyak memiliki industri Penanaman Modal Asing (PMA). Kesadaran tersebut dipicu oleh adanya kebutuhan kemampuan berkomunikasi dengan orang asing yang menyebabkan tingginya tuntutan penguasaan Bahasa Inggris bagi sebagian besar warganya. Oleh karena itu, berdasarkan adanya kebutuhan tersebut pada beberapa daerah telah mengajarkan Bahasa Inggris sebagai muatan lokal pilihan di jenjang SD. Beberapa studi empiris menunjukan bahwa pembelajaran dan pemerolehan bahasa asing akan lebih baik apabila dilakukan secara dini. Berdasarkan hal itu berkembang pemikiran bahwa pembelajaran Bahasa Inggris seyogyanya sudah dilakukan pada tingkat SD. Masalahnya beberapa sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran bahasa Inggris di SD banyak diantara guru yang mengajar tersebut belum mempunyai kompetensi sebagai pengajar bahasa Inggris, karena sebagian besar mereka adalah guru kelas dengan latar belakang pendidikan DII PGSD guru kelas. Di antara pendidik tersebut juga ada yang berlatar bahasa Inggris tetapi tidak punya kompetensi mengajar di SD. Untuk itu perlu pengembangan program Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) bahasa Inggris Guru SD sistem jarak jauh. 


Selain itu, kebutuhan (need) dapat diartikan pula sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya. Kebutuhan dapat dirumuskan pula sebagai jurang antara “apa yang ada” dan “apa yang seharusnya ada” dalam pengertian hasil (Kaufman,1972). Kemudian apa keinginan itu? Keinginan adalah harapan ke depan atau citacita yang terkait dengan pemecahan suatu masalah. 


Namun, perlu Anda ingat tidak semua kebutuhan dan masalah dapat disebut kebutuhan pembelajaran, karena belum tentu memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Coba Anda berikan contoh!. Misalnya peserta didik protes karena sukar membaca dan mempelajari buku pelajaran bahasa Inggris yang di cetak dan diterbitkan suatu penerbit. Setelah diteliti ternyata cetakan buku tersebut kurang bagus dan ada sebagian halaman yang rusak. Hal ini disebabkan karena mesin yang digunakan oleh pencetakan tidak dapat berfungsi dengan baik. Masalahnya adalah mesin percetakan kurang berfungsi dengan baik. Untuk itu perlu adanya perbaikan atau penggantian beberapa peralatan mesin tersebut. 


Nah, sekarang apa kebutuhan pembelajaran itu? Kebutuhan pembelajaran adalah kebutuhan yang memerlukan penyelesaian dengan melaksanakan kegiatan instruksional/pembelajaran. Sebagai contoh! Anda perhatikan tabel analisis kebutuhan sebagai berikut: 

Masalah

Indikator

Penyebab

Pemecahan

Instruksional

Manajemen

Rendahnya

prestasi belajar

Bahasa

Inggris peserta

didik

SD

Peserta didik

kurang menguasai

empat

keterampilan

berbahasa

Inggris

Kemampuan

menyimak

(listening)

rendah

Meningkatkan

kualitas pembelajaran

bahasa

Inggris di SD

dengan menyediakan

media

audio/radio untuk

pembelajaran

bahasa Inggris

Meningkatkan

sarana dan prasarana

pembelajaran

bahasa Inggris,

seperti laboratorium

bahasa,

program audio/-

radio

 

 

Kemampuan

berbicara

(speaking)

rendah

Meningkatkan

kualitas pembelajaran

bahasa

Inggris di SD

Meningkatkan

sarana dan prasarana

pembelajaran

bahasa Inggris,

seperti laboratorium

bahasa

 

 

Kemampuan

membaca

(reading)

rendah

Meningkatkan

kualitas pembelajaran

bahasa

Inggris di SD

Mengadakan

bahan bacaan

yang berbahasa

Inggris

 

 

Kemampuan

menulis

(writing) rendah

Meningkatkan

kualitas pembelajaran

bahasa

Inggris di SD

Mengadakan

berbagai lomba

untuk meningkatkan

kemampuan

berbahasa Inggris

 

Peserta didik

kurang menguasai

unsur-unsur

berbahsa Inggris

Penguasaan

kosa kata

bahasa Inggris

yang minim

Meningkatkan

pembelajaran

yang terintegrasi

antara keterampilan

berbahasa

dengan unsur

bahasa

Menyediakan

fasilitas pembelajaran,

seperti

kamus, buku pelajaran

bahsa Inggris

 

 

Kurang menguasai

tata bahasa

bahasa

Inggris

Meningkatkan

kualitas pembelajaran

bahasa

Inggris di SD

Meningkatkan

sarana dan prasarana

pembelajaran

bahasa Inggris

 

 

Kurang menguasai

lafal dan

ejaan bahasa

Inggris, dalam

berbagai teks

lisan dan

tertulis

Meningkatkan

kualitas pembelajaran

bahasa

Inggris di SD

Meningkatkan

sarana dan prasarana

pembelajaran

bahasa

Inggris, seperti

laboratorium

bahasa

 

 

Kurang menguasai

aspek

budaya yang

terkandung

dalam ekspresi

dalam bahasa

Inggris

Meningkatkan

kualitas pembelajaran

bahasa

Inggris di SD

Meningkatkan

sarana dan prasarana

pembelajaran

bahasa

Inggris, seperti

laboratorium

bahasa

 

Motivasi belajar

peserta didik

rendah

Kesulitan

dalam mempelajari

bahasa

asing

Meningkatkan

proses pembelajaran

yang

menarik dan

bermakna

Menyediakan

fasilitas pembelajaran,

seperti

kamus, buku pelajaran

bahsa

Inggris

 

Perhatian dan

minat peserta

didik terhadap

pelajaran kurang

Pembelajaran

nya tidak

menarik dan

kurang menyenangkan

Menggunakan

strategi pembelajaran

yang

bervariasi dan

menumbuhkan

keper-cayaan diri

peserta didik

Menyediakan

fasilitas pembelajaran,

seperti

kamus, buku pelajaran

bahsa

Inggris

Rendahnya

dukungan

dan perhatian

terhadap

pembelajaran

bahasa

Inggris di SD

Kurangnya

perhatian dan

dukungan dari

Pemda, masyarakat,

dan orang

tua peserta didik

terhadap pembelajaran

bahasa

Inggris di SD

Miskin dan

alokasi anggaran

yang minim

Sosialisasi dan

pelatihan pembelajaran

bahasa

Inggris terhadap

orang tua peserta

didik terhadap

pembelajaran

bahasa Inggris di

SD

Regulasi dan kebijakan

dalam pembelajaran

bahasa

Inggris di SD

Guru kurang

kompeten

dan profesional

dalam

pembelajaran

bahasa

Inggris di SD

Guru kurang

menguasai

materi bahasa

Inggris

Kurang menguasai

empat

keterampilan

berbahsa

Inggris

Meningkatkan

kemampuan dan

penguasaan guru

terhadap materi/-

keterampilan

bahasa Inggris

Menugaskan guru

untuk mengikuti

Diklat /kursus

bahasa Inggris

Tabel 1, Analisis Kebutuhan Diklat Bahasa Inggris Guru Sekolah Dasar

Berdasarkan contoh analisis tabel 1 di atas, apa rekomendasi Anda untuk mengatasi masalah tersebut? Sebab Hasil akhir atau final dari suatu analisis kebutuhan sistem pembelajaran adalah sebuah rekomendasi atau saran solusi untuk pembelajaran (meningkatkan kompetensi). Tentu saja rekomendasi tersebut memberikan alternatif pilihan yang paling mungkin untuk dilaksanakan atau ditindaklanjuti, dan dipilih yang bisa mengatasi masalah yang paling urgen, mendesak atau berpotensi menjadi masalah besar. Berdasarkan tabel1 di atas, menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris di SD merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dielakkan atau ditunda lagi. Namun, mengingat keberhasilan pembelajaran Bahasa Inggris akan berhasil apabila dilakukan oleh tenaga pendidik yang profesional dan berkompeten, didukung dengan strategi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, serta tersedianya bahan belajar, sumber belajar dan media pembelajaran yang memadai dan berkualitas. Oleh karena itu, rekomendasi yang dapat Anda berikan adalah perlu dilakukan serangkaian kegiatan yang mengarah pada upaya-upaya agar guru SD mempunyai kompetensi/kemampuan untuk melaksanakan pembelajaran Bahasa Inggris di SD. Mengingat kondisi dan karakteristik guru SD, alternatif yang memungkinkan untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensi guru SD dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah melalui Diklat bahasa Inggris sistem jarak jauh. Jadi alternatif solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah mengembangkan dan menyelenggarakan Diklat Bahasa Inggris untuk guru SD sistem jarak jauh. Selain itu ada beberapa pertimbangan yang menjadi landasan mengembangkan dan menyelenggarakan Diklat Bahasa Inggris guru SD sistem jarak jauh (Warsita, 2011), antara lain:

  1. Tekad pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di SD melalui peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Inggris. 
  2. Pembelajaran dan pemerolehan bahasa asing akan lebih baik apabila dilakukan secara dini, pembelajaran Bahasa Inggris seyogyanya sudah dilakukan sejak tingkat SD.
  3. Adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan Bahasa Inggris, terutama di daerah tujuan wisata dan daerah yang memiliki industri Penanaman Modal Asing (PMA).
  4. Pembelajaran Bahasa Inggris di SD merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dielakkan dan perlu diikuti dengan penyiapan tenaga guru yang profesional dan berkompeten melalui serangkaian Diklat.
  5. Keberhasilan pembelajaran Bahasa Inggris di SD akan terealisasi apabila dilakukan oleh guru yang berkompeten, didukung dengan metode pembelajaran yang komunikatif dan tersedianya bahan ajar yang cukup serta berkualitas
  6. Mengingat keanekaragaman kondisi dan karakteristik guru SD, maka perlu Diklat yang dapat diikuti oleh guru SD yang memerlukan, tanpa harus meninggalkan tugas mengajar dan biaya relatif murah.
  7. Banyak guru SD yang sudah mengajar Bahasa Inggris, pada hal belum pernah dilatih atau mengikuti Diklat Bahasa Inggris.

Bagaimana menganalisis kebutuhan itu? Analisis kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan yang tepat (Morrison, 2001). Sedangkan menurut Burton dan Merrill, analisis kebutuhan adalah suatu proses yang sistematis dalam menentukan sasaran, mengidentifikasi kesenjangan/ketimpangan antara sasaran dengan keadaan nyata, serta menetapkan prioritas tindakan. Dengan demikian, menganalisis kebutuhan pembelajaran dan analisis pembelajaran merupakan langkah awal yang harus dilakukan dalam pengembangan sistem pembelajaran, ketika menghadapi masalah tentang pembelajaran. Apakah analisis kebutuhan sistem pembelajaran itu? Analisis kebutuhan sistem pembelajaran adalah suatu pendekatan yang sistematis dan sistemik dalam memecahkan kesenjagan dalam sistem pembelajaran. Selain itu dalam bidang pendidikan dan pelatihan (Diklat), analisis kebutuhan adalah suatu proses untuk menentukan apa yang seharusnya diajarkan. Kebutuhan Diklat dapat diketahui sekiranya terjadi kesenjangan atau ketimpangan antara kondisi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) yang senyatanya ada dengan tujuan-tujuan /kinerja yang diharapkan tercipta pada suatu organisasi. Oleh karena itu, analisis kebutuhan Diklat adalah suatu proses kegiatan yang bertujuan untuk menemukan dan mengenali adanya suatu kesenjangan pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dapat ditingkatkan melalui Diklat. Jika demikian, apakah hasil yang diperoleh dari kegiatan analisis kebutuhan sistem pembelajaran itu? Anda tahu? Hasil yang diperoleh dari analisis kebutuhan sistem pembelajaran adalah kompetensi-kompetensi dasar atau tujuan pembelajaran tertentu dalam suatu mata pelajaran yang potensial untuk disampaikan (delivered) melalui sistem atau model pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, hasil analisis kebutuhan ialah berbagai kompetensi . Misalnya pembelajaran dengan memanfaatkan media dan sumber belajar. Kompetensi-kompetensi dasar inilah yang akan menjadi acuan tahap selanjutnya yaitu penyusunan Garis Besar Isi Media (GBIM) dan pemilihan/penentuan model dan format media dan bahan belajar yang tepat untuk mencapai kompetensi dasar tersebut. Dengan demikian, langkah pertama dalam merancang GBIM ialah analisis kebutuhan (needs assessment). Selain itu, salah satu cara yang khusus digunakan untuk mengetahui kebutuhan jenis media dan bahan belajar dalam suatu kurikulum yaitu melalui identifikasi kurikulum. Dari kegiatan identifikasi ini akan diketahui materi mana yang membutuhkan media video dan materi mana yang membutuhkan media dan bahan belajar lain untuk mencapai kompetensinya. Dengan demikian, tidak lagi terjadi kesalahan dalam pemilihan media dan bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhan materi pembelajaran tertentu. Misalnya ada sub-pokok bahasan yang efektif dicapai dengan media audio, sedangkan sub-pokok bahasan lain-nya menggunakan media televisi atau video, atau menggunakan jenis media lainnya. Sebelum Anda melanjutkan pada uraian materi berikutnya, pastikan bahwa Anda sudah memahami uraian materi yang baru saja Anda pelajari.

 

B. Tujuan analisis kebutuhan sistem pembelajaran

Coba Anda perhatikan contoh kasus berikut! Bila Anda sebagai pengembang sistem pembelajaran atau pendidik hendaknya mengajukan suatu pertanyaan kepada diri sendiri. Apakah pemberian pembelajaran itu dapat memecahkan masalah? Pertanyaan- pertanyaan senada secara rinci antara lain:

  1. apa kebutuhan yang dihadapi? 
  2. apakah kebutuhan tersebut merupakan masalah?
  3. apa penyebabnya?
  4. apakah pemberian pembelajaran merupakan cara yang tepat untuk memecahkan masalah?
  5. apakah pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang Anda sampaikan itu benar-benar belum dikuasai oleh peserta didik dan kompetensi itu penting bagi peserta didik?

Nah, bagaimana jawaban Anda? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu tidak dapat Anda jawab dengan cermat bila Anda tidak melakukan suatu kegiatan analisis kebutuhan sistem pembelajaran. Artinya apabila Anda sebagai guru/pendidik, pengelola program pendidikan atau pengembang sistem pembelajaran pertama-tama yang harus Anda lakukan adalah kegiatan analisis kebutuhan sistem pembelajaran. Selanjutnya apakah tujuan kegiatan analisis kebutuhan sistem pembelajaran? Secara ringkas tujuan analisis kebutuhan sistem pembelajaran adalah:

  1. Menginventaris atau mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran. Identifikasi masalah merupakan proses membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan yang diharapkan atau seharusnya. Hasilnya akan menunjukkan kesenjangan antara kedua keadaan tersebut. Kesenjangan ini disebut dengan kebutuhan. Bila kesenjangan kedua keadaan tersebut besar, kebutuhan itu perlu diperhatikan ataudiselesaikan. Kebutuhan yang besar dan ditetapkan untuk diatasi itu disebut masalah. Oleh karena itu, kebutuhan yang lebih kecil mungkin untuk sementara waktu atau seterusnya diabaikan. Artinya kebutuhan yang tidak dianggap sebagai masalah. Hasil akhir dari identifikasi masalah adalah perumusan tujuan pembelajaran umum.
  2. Menyusun skala priotitas pemecahan masalah Setelah Anda mengetahui masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi, maka Anda perlu mencari alternatif pemecahan masalah tersebut dengan menggunakan skala prioritas pemecahan masalah. Adapun beberapa pertimbangan yang perlu Anda perhatikan dalam menilai atau menentukan skala prioritas pemecahan masalah, yaitu:
    a. tingkat signifikansi pengaruhnya,
    b. luas ruang lingkupnya, dan
    c. pentingnya peranan kesenjangan tersebut terhadap masa depan lembaga atau program 
  3. Merumuskan tujuan umum yang akan dicapai dari proses pemecahan masalah. Hasil kegiatan analisis kebutuhan pembelajaran yaitu daftar pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang masih belum dikuasi peserta didik dan perlu dikuasi peserta didik (Suparman, 2004). Dengan kata lain, kegiatan analisis kebutuhan ini akan menghasilkan kompetensikompetensi yang masih belum dikuasai dan perlu dikuasai peserta didik. Kompetensi dasar inilah yang akan menjadi dasar acuan tahap selanjutnya yaitu perumusan Tujuan Instruksional Umum (TIU) atau Tujuan Pembelajaran Umum (TPU). Nah, selanjutnya apa fungsi analisis kebutuhan sistem pembelajaran? Secara ringkas fungsi analisis kebutuhan sistem pembelajaran adalah untuk:
    a. Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang, yaitu masalah yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
    b. Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah-masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan.
    c. Menyajikan skala prioritas untuk memilih tindakan yang tepat dalam mengatatasi masalah-masalah pembelajaran. d) Memberikan data basis untuk menganalisis efektifitas kegiatan pembelajaran (Morrison, 2001). 

 

C. Esensi Analisis Kebutuhan Sistem Pembelajaran

Langkah permulaan dalam proses pengembangan sistem pembelajaran adalah analisis kebutuhan pembelajaran. Anda ingat, langkah ini sangat penting dan strategis dalam proses pengembangan sistem pembelajaran. Mengapa demikian? Langkah ini merupakan titik tolak dan sekaligus sumber untuk langkah-langkah berikutnya. Oleh karena itu, kebingungan pada langkah permulaan ini tentu akan menyebabkan seluruh kegiatan pengembangan sistem pembelajaran kehilangan arah (Suparman, 2004). Maka esensi dari kegiatan analisis kebutuhan sistem pembelajaran adalah agar Anda dapat memperoleh suatu pendekatan yang sistematis, efektif dan efisien dalam menentukan kebutuhan akan sistem pembelajaran. Dengan demikian, esensi analisis kebutuhan sebenarnya adalah menemukan rekomendasi yang dapat menjadi soulsi permasalahan. Nah, sekarang untuk melatih penguasaan materi Anda, coba buatlah resume materi analisis kebutuhan sistem pembelajaran dan tujuan penerapannya di bidang pengembangan media pembelajaran. Apabila Anda menemui kesulitan jangan segan-segan Anda diskusikan dengan teman sejawat.

 

Sumber Acuan

Abidin, zaenal, Analisis Kebutuhan Pembelajaran dan Analisis Pembelajaran dalam Desain Sistem Pembelajaran, Jurnal Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2007 (website: http// www.ums.ac.id)

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Cetakan ke 10 , Jakarta: Penerbit PT Rineka Cipta, 1996

Cronbach, Lee J., Educational Psychology 3rd Edition. New York: Harcourt Brace Jovanovich Inc., 1977

Degeng, Nyoman.S, Paradigma Pendidikan:dari Behavioristik ke Konstruktivistik, Bahan presentasi, Univ. Negeri Malang, 2007.

DePorter, Bobbi, & Hermacki, Mike, Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Terj. Alwiyah Abdurrahman, Bandung, Penerbit Kaifa, 1992.

Dick, Walter and Carey Lou, The Systematic Design of instruction 3rd Ed, Includes Bibliographical References, USA, Walter Dick and Lou Carey 1990.


1 2 3 4 >>


 PROFIL KAMI

 STATISTIK

User Online : 1
Total hits : 910264
Pengunjung Hari ini : 30
Pengunjung Kemarin : 31
Pengunjung Bulan ini : 625
Pengunjung Tahun ini : 73447
Total Pengunjung : 403987

 KATA INSPIRASI

Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna. (Mohammad Hatta)