Memahami Learning Style Peserta Didik


2014-04-02 15:20:55 | author : Eko Perianto

Mendidik dan mengajar atau juga disebut sebagai pendidikan dan pengajaran tentu sangat berbeda esensi_nya jika kita perhatikan secara seksama. Mendidik mengandung arti bahwa selain dari pada memberikan materi dan ilmu dalam proses kegiatan belajar, juga memberikan values (nilai-nilai) budipekerti kepada peserta didik. Akan berbeda jika kita melihat arti sebuah kata “mengajar” yang diartikan bahwa mengajar hanya transfer of knowladge. Bila diperhatikan konsep mengajar ini banyak digunakan dibimbingan belajar, dimana bimbingan belajar memberikan pengajaran sesuai dengan keinginan atau pilihan siswanya (selanjutnya disebut peserta didik). Praktik dilingkungan sekolah sangatlah berbeda dengan apa yang terjadi didalam lembaga bimbingan belajar.

Sebagai guru (selanjutnya disebut pendidik) seyogyanya mengerti dan paham akan perbedaan tersebut. Muhibbin Syah, dalam bukunya bahwa Pendidikan itu: (1) jauh berbeda dengan pengajaran; (2) lebih penting dari pada pengajaran; (3) karena pengajaran hanya menanamkan pengetahuan ke dalam aspek kognitif (ranah cipta) dan sedikit memberikan keterampilan psikomotorik, sedangkan pada aspek afektif (ranah rasa) tidak pernah tersentuh.

Kurikulum 2013 pendidikan atau mendidik. Peserta didik diberikan kebebasan untuk belajar dengan berpusat pada diri mereka (student centered) sedangkan pendidik sebagai motivator, fasilitator dan tidak meninggalkan untuk memberikan nilai-nilai positif pada mereka. Namun kemungkinan ada problem yang harus kita lihat yaitu bagaimana dengan peserta didik yang pasif, itu menjadi pekerjaan rumah sebagai seorang pendidik. Pendidik seyogyanya memahami bagaimana gaya belajar (learning style) para peserta didik mereka. pendidik yang disebut sebagai motivator dan fasilitaor dalam belajar. Ini sejalan dengan  Carl Roger (Uyoh Sadulloh, 2003) bahwa pendidik harus dapat dan mampu mengkonstruksikan perbedaan yang dimiliki peserta didik, baik karakter, cara belajar, dan lain-lian. Pendidik harus dapat mengelola perbedaan-perbedaan tersebut dan tidak hanya mau didengarkan tetapi juga harus mau mendengarkan. Poses kegiatan belajar mengajar didalam kelas tidak bisa berjalan dengan lancar, apabila pendidik tidak mengerti dan memahami apa yang disebut sebagai learning style para peserta didiknya.

Berbeda jika seorang pendidik mengerti dan memahami gaya belajar peserta didiknya, yang nampak ketika proses pembelajaran  di kelas berlangsung. Guru yang tidak mengerti dan memahami gaya belajar peserta didiknya,  akan menemui kendala,  dan sebaliknya. Ppendidik yang memahami gaya belajar peserta didiknya, dapat  meminimalisir terjadinya iklim yang kurang kondusif. 

Dampak  pemahaman  gaya belajar peserta didik salah satunya adalah merancang sebuah gaya mengajar “teaching style”. Dengan memahami gaya belajar peserta didik yang kemudian pendidik, melalui evaluasi dan pengamatandalam kelas maka akan menghasilkan sebuah gaya mengajar. Sederhananya gaya mengajar atau disebut juga teaching style merupakan strategi yang tepat dan efesien dalam proses kegiatan belajar didalam kelas.

Gaya belkajar siswa tidak hanya berdampak bagaimana pendidik merancang cara mengajar,  tetapi pendidik  merasakan sesuatu yang berbeda, seperti  lebih merasa percaya diri, merasa nyaman dan lebih siap metode  yang akan digunakan untuk menyampaikan materi pembelajarannya. .  Psikolog Pendidikan Australia, Michael J. Lawson (1991) mengartikan strategi sebagai prosedur mental yang terbentuk tatanan langkah yang menggunakan upaya ranah cipta untuk mencapai tujuan tertentu. Menilik dari pendapat tersebut maka setidaknya seorang pendidik lebih matang dalam menyiapkan sebuah pembelajaran dengan langkah dan strategi yang tepat untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan.

Pendidik harus mencari dan menemukan bagaimana langkah-langkah yang digunakan untuk memahami gaya belajar peserta didiknya. Juga dapat melakukan perebaikan perbaikan  menuju kesuksesan dalam kegiatan pembelajaran. Oleh sebab itu secara rinci perlu dibahas gaya belajar, cara mengetahui gaya belajar sampai pada bagaimana menemukan sebuah teaching style ..

 

PENGERTIAN BELAJAR 

Long life education merupakan semboyan bagi orang-orang yang mempercayai bahwa setiap gerak dan upaya dalam kehidupan ini didasari oleh sebuah proses belajar. Dimana belajar merupakan kunci dari sebuah pintu kehidupan yang nyata dalam ruang lingkup kehidupan. Maka dalam hal ini belajar memiliki arti penting dalam kehidupan disetiap individu. Baharuddin dan Wahyuni (2007) mengemukakan bahwa belajar merupakan proses manusia untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan dan sikap. Hintzman (Muhibbin Syah, 2010) berpendapat learning is a change organism due to eperience which can affect the organism’s behavior’s. (belajar adalah suatu perubahan yang terjadi didalam diri organisme “manusia dan hewan” disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkahlaku organisme tersebut). Selanjutnya Hilgrad dan Bower (Furdyartanto, 2002) belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan.  

Belajar dikatakan berhasil ketia apa yang disampaikan dan yang dipelajari dapat merubah sebuah perilaku. Peserta didik belajar disekolah tentang bagaimana menghargai orang lain saat berbicara dan kemudian ia melakukan hal tersebut maka proses belajar yang dilakukan dapat dikatakan berhasil. Proses belajar yang dilakukan akan menentukan keberhasilan seseorang dalam belajar. Proses belajar merupakan serangkaian aktivitas yang terjadi pada pusat syaraf  individu yang belajar. Proses belajar terjadi secara abstrak, karena terjadi secara mental yang tidak dapat diamati. Oleh karena itu, proses belajar hanya dapat diamati jika ada perubahan perilaku dari seseorang yang berbeda dengan sebelumnya.          

Menurut Wingkel (2007) ,  proses belajar disekolah, terjadi  melalui tahapan atau fase seperti motivasi, konsentrasi, mengolah, mengali informasi dan fase umpan balik. Peserta didik mengikuti proses belajar di lingkungan sekolah tidak hanya diruang kelas saja akan tetapi proses sosialisasipun sudah dikatakan sebagai belajar. Pendidik yang baik selalu memberikan arahan kepada anak didiknya untuk belajar. Perlu disadari bahwa belajar yang dilakukan oleh setiap individu memiliki keunikan tersendiri dan memiliki perbedaan di masing-masing individu.  

Jenis belajar pada setiap peserta didik  sebaiknya dilakukan oleh orangtua dan guru, dengan tujuan  untuk memahami bagaiamana anak menerima sebuah pengetahuan melalui proses belajar. Dipastikan bahwa setiap individu memiliki ciri khusus dalam menerima sebuah hal baru seperti bagaimana seorang peserta didik menerima informasi kemudian menafsirkannya. Jenis belajar seperti pemecahan masalah merupakan salah satu jenis belajar yang dimiliki oleh individu. Disana peserta didik diajak untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dan kemudian ia akan menemukan hal hal baru yang bisa dikatakan sebagai proses belajar. Muhibbin Syah (2010), menyebutkan  macam-macam jenis belajar seperti belajar abstrak, keterampilan, sosial, pemecahan masalah, rasioanl kebiasaan, apresiasi dan pengetahuan. Terjadi perbedaan dalam belajar merupakan sebuah kekayaan tersendiri yang dimiliki oleh sekelompok individu didalam satu tempat dan ruang. Dan ini  akan memperkaya seorang pendidik untuk memberikan materi yang akan disampaikan. Pendidik akan merancang sebuah pembelajaran yang inovatif dan kreatif sesuai kondisi kelas yang diampunya. Ini merupakan hal yang setidaknya membantu seorang pendidik dalam merancang pembelajarannya dengan catatan pendidik mampu mengerti dan paham tentang kondisi kelasnya terutama gaya belajar mereka. Hal ini bukan berarti dalam belajar peserta didik tidak menemui kendala ketika belajar dikelas. Faktor utama yang mempengaruhi belajar pada peserta didik adalah faktor internal  seperti keadaan fisiologi dan psikologis.

Ada tida faktor yang mempengaruhi belajar peserta didik yang dikemukakan oleh Muhibbin Syah (2010) diantaranya (1) faktor internal seperti keadaan jasmani dan rohani; (2) faktor eksternal seperti kondisi lingkungan disekitarnya; dan (3) faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya peserta didik yang meliputi strategi dan metode yang digunakan untuk mempelajari materi-materi pelajaran. Motivasi merupakan hal yang sangat penting untuk menumbuhkan semangat belajar pada peserta didik. Hingga pada akhirnya faktor yang mempengaruhi belajar dapat dikendalikan dengan baik. Kurangnya motivasi akan berdampak pada kegiatan belajar peserta didik dikelas sehingga peserta didik akan melakukan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan belajar. Seperti halnya yang di kemukkan oleh Eko Perianto (2011) bahwa Motivasi yang dimiliki oleh sebagian peserta didik masih  dalam mengikuti kegiatan pembelajaran disekolah. Hingga pada akhirnya peserta didik memiliki sikap acuh tak acuh terhadap kegiatan belajar dikelas. Selain  itu peserta didik juga  membiasakan diri untuk berbuat hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan belajar saat dikelas, seperti tidur, rame sendiri, ngobrol dengan teman dan lain sebagainya. Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi pendidik untuk melakukan pengayaan terhadap bagaimana memberikan materi yang sesuai dengan kondisi peserta didik.

 

APA GAYA BELAJAR ITU

Jika berbicara mengenai belajar dan proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik di lingkungan sekolah maka tidak terlepas dari gaya belajar. Oleh karena itu perlu kiranya untuk mengerti apa yang dimaksud dengan gaya belajar. Slavin, (2000) mengemukakan bahwa gaya belajar merupakan cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut atau cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut. Dunn (1980), gaya belajar adalah cara seseorang pelajar memproses serta mempertahankan informasi baru. Gaya belajar tergantung ke fitur biologi dan perkembangan kepribadian seseorang dan ia dipengaruhi oleh lingkungan, emosi, pengaruh sosial serta perasaan individu. Dari dua pendapat tersebut maka secara singkat gaya belajar dapat diartikan sebagai metode seseorang untuk menerima dan mengolah sebuah informasi yang didapatkan dari proses belajar.

Dari sekian banyak teori atau temuan mengenai Learning Style (Gaya Belajar) penulis   akan membahas sebuah model yang dikemukakan oleh David A. Kolb (1981). Kolb mengemukakan adanya empat kecenderungan seseorang dalam proses belajar antara lain:

1. Perasaan/ feeling (Concrete Experience)

Anak belajar melalui perasaan, dengan menekankan segisegi pengalaman kongkret, lebih mementingkan relasi dengan sesama dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain. Dalam proses belajar, anak cenderung lebih terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang dihadapinya.

2. Pemikiran/thingking (Abstract Conceptualization)

Anak belajar melalui pemikiran dan lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi. Dalam proses belajar, anak akan mengandalkan perencanaan sistematis serta mengembangkan teori dan ide untuk menyelesaikan masalah yangdihadapinya.

3. Pengamatan/ watching (Reflective Observation)

Anak belajar melalui pengamatan, penekanannya mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-hal yang diamati. Dalam proses belajar, anak akan menggunakan pikiran dan perasaannya untuk membentuk opini/pendapat.

4. Tindakan/ Doing(Active Experimentation)

  Anak belajar melalui tindakan, cenderung kuat dalam segi kemampuan melaksanakan tugas, berani mengambil resiko, dan mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya. Dalam proses belajar, anak akan menghargai keberhasilannya dalam menyelesaikan pekerjaan, pengaruhnya pada orang lain, dan prestasinya.

Menurut Kolb, tidak ada individu yang gaya belajarnya secara mutlak didominasi oleh salah  dari empat kecenderungan tersebut. Hanya saja yang biasanya terjadi adalah kombinasi dari dua kecenderungan dan membentuk satu kecenderungan atau orientasi belajar. Empat kecenderungan di atas membentuk  empat kombinasi gaya belajar. Pada model di atas, empat kombinasi gaya belajar diwakili oleh angka1 hingga 4, dengan penjelasan seperti di bawah ini:

1. Gaya Diverger

Kombinasi dari perasaan dan pengamatan (feeling and watching). Anak dengan tipe Diverger unggul dalam melihat situasi kongkret dari banyak sudut pandang yang berbeda. Pendekatannya pada setiap situasi adalah "mengamati" dan bukan "bertindak". Anak seperti ini menyukai tugas belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide (brainstorming), biasanya juga menyukai isu budaya serta suka sekali mengumpulkan berbagai informasi.

2. Gaya Assimillato

Kombinasi dari berpikir dan mengamati (thinking and watching). Anak dengan tipe Assimilator memiliki kelebihan dalam memahami berbagai sajian informasi serta merangkumkannya dalam suatu format yang logis, singkat, dan jelas. Biasanya anak tipe ini kurang perhatian pada orang lain dan lebih menyukai ide serta konsep yang abstrak, mereka juga cenderung lebih teoritis.

3. Gaya Converger

Kombinasi dari berfikir dan berbuat (thinking and doing). Anak dengan tipe Converger unggul dalam menemukan fungsi praktis dari berbagai ide dan teori. Biasanya mereka punya kemampuan yang baik dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka juga cenderung lebih menyukai tugastugas teknis (aplikatif) daripada masalah sosial atau hubungan antar pribadi.

 

4. Gaya Accomodator

Kombinasi dari perasaan dan tindakan (feeling and doing). Anak dengan tipe Accommodator memiliki kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang dilakukannya sendiri. Mereka suka membuat rencana dan melibatkan dirinya dalam berbagai pengalaman baru dan menantang. Mereka cenderung untuk bertindak berdasarkan intuisi/dorongan hati daripada berdasarkan analisa logis. Dalam usaha memecahkan masalah, mereka biasanya mempertimbangkan faktor manusia (untuk informasi) dibanding analisa teknis.

 

KESIMPULAN 

Kesimpulan dari uraian tentang learning style (gaya belajar) yang dikemukakan oleh David A. Kolb, sebagai pendidik kiranya selalu memperhatikan metode yang digunakan untuk memberikan pelajaran kepada peserta didiknya. Karena setiap individu memiliki perbedaan dalam menerima apa yang disampaikan oleh pendidik yang dikatakan sebagai learning style (gaya belajar). Perbedaan itu dapat menimbulkan kesulitan dalam kegiatan belajar mengajar (dalam interaksi, komunikasi, kerjasama, dan penilaian) apabila sebagai pendidik tidak mau belajar tentang apa yang menjadi perbedaan tersebut.

 

 

Oleh. Eko Perianto, S.Pd.,M.Si

(Ketua Konselor Sekolah di SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta)


1 2 3 4 >>


 PROFIL KAMI

 STATISTIK

User Online : 1
Total hits : 909165
Pengunjung Hari ini : 32
Pengunjung Kemarin : 34
Pengunjung Bulan ini : 564
Pengunjung Tahun ini : 73386
Total Pengunjung : 403926

 KATA INSPIRASI

Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna. (Mohammad Hatta)