Pendidikan dan Perkembangan Budaya IPTEK


2014-05-15 10:47:22 | author : Estu Miyarso, M.Pd.

A.  Pendahuluan

Kehidupan pada hakekatnya selalu berkembang (baca: berubah). Dalam konteks sosial, tidak ada masyarakat yang bersifat statis, namun cenderung berubah. Yang konstan adalah perubahan itu sendiri.  Perubahan dapat bersifat cepat atau lambat, berkembang ke arah yang lebih baik (Progress) atau mundur ke arah sebelumnya (Regress), berujud dan dapat disaksikan (Manifest) atau hanya sekedar tersamar (Latent). 

Masalahnya adalah, bahwa setiap perubahan yang terjadi dalam masyarakat akan selalu memunculkan resiko kehidupan sosial atau ketidakpastian sosial. Wujud dari ketidakpastian sosial tersebut bermacam-macam.  Ada yang berbentuk kegagapan dalam pemanfaatan produk-produk teknologi hingga kegamangan dalam menerapkan nilai-nilai sosial yang masih transisional.  Dalam konteks kekinian, tatanan sosial yang baru (modern) lebih menekankan pada rasionalisasi yang bersifat progresif.  Di sisi lain, masyarakat yang mengalami transformasi, solidaritas bukan lagi menjadi prioritas, melainkan lebih individualis atau berorientasi pada pertimbangan untung rugi. Gaya hidup instan menjadi bagian kehidupan masyarakat kita. Akibat tidak langsung yang menonjol adalah suburnya perilaku generasi muda yang kurang sabar, kurang toleransi, menyenangi sesuatu yang praktis dan cepat.

Sadar maupun tidak. Suka atau tidak suka, itulah realitas sosial yang sedang kita hadapi. Kebudayaan yang sedang kita alami saat ini merupakan proses transformasi sosial yang kompleks dan cukup sulit untuk diprediksi.  Pertanyaannya adalah, benarkah ilmu dan teknologi berpengaruh atas perkembangan kebudayaan? Sejauhmana ilmu dan  teknologi itu berperan? Dimanakah posisi pendidikan akan kita tempatkan? Apakah pendidikan masih dapat diandalkan untuk menjadi solusi  atas perubahan ini? ataukah justru pendidikan semakin menjadi bagian dari perubahan yang tengah terjadi? Semoga makalah ini sedikit banyak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

 

B. Pembahasan

Dalam sebuah pengantar di salah satu bukunya. Rizal  Muntansyir dan Misnal Munir   (2006:v) menyatakan bahwa ada semacam kecemasan yang menghinggapi benak kebanyakan para filusuf (pemikir) pada saat ini.  Kecemasan itu berkenaan dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, yang semula berjalan di atas rel kesejahteraan dan kepentingan manusia, namun belakangan justru berbalik menyengsarakan karena memperalat manusia sendiri. 

Menurutnya, paling tidak ada dua jawaban mengapa hal itu bisa terjadi. Pertama adalah alasan historis (dosa sejarah), di mana pengikut renaissance yang telah memisahkan antara aktivitas ilmiah dengan nilai-nilai keagamaan di masa lalu hingga menjadikan ilmu bergerak tanpa kendali dan kering dari rambu-rambu normatif.  Kedua, alasan normatif, bahwa orientasi akademik mengalami pergeseran dari wilayah keilmuan ke wilayah pasar yang cenderung profit oriented, sehingga demi uang segolongan ilmuan tidak segan-segan melanggar kode etik ilmiah.

Sebelum membahas pada persoalan yang lebih rumit lagi, ada baiknya kita kaji lebih dulu definisi ilmu, teknologi dan kebudayaan serta hubungan antara ketiganya.  

1. Definisi Ilmu, Teknologi, dan Kebudayaan.

a.    Definisi ilmu

Menurut Prent (1969) sebagaimana dikutip oleh Tim Dosen Filsafat UGM (2003: 149) secara etimologis ilmu berasal dari kata ”Scientia” yang berarti pengetahuan tentang, tahu juga tentang, pengetahuan mendalam, faham benar-benar.   Masih pada buku yang sama dijelaskan, bahwa ilmu memiliki makna denotatif dan makna konotatif.  Dari makna denotatif, ilmu dapat diartikan sebagai ”pengetahuan” sebagaimana dimiliki oleh setiap manusia maupun ”pengetahuan ilmiah” yang disusun secara sistematis dan dikembangkan melalui prosedur tertentu.

Adapun konotasi istilah ilmu merujuk pada serangkaian aktivitas manusia yang manusiawi, bertujuan dan berhubungan dengan kesadaran. Dari titik pandang internal dan sistematis, konotasi ilmu sesungguhnya menyangkut tiga hal yaitu; proses, prosedur, dan produk. Proses menunjuk pada ”penelitian ilmiah”, prosedur mengacu pada ”metode ilmiah”, dan ilmu sebagai produk mengandung maksud ”pengetahuan ilmiah”.

Dari dimensi sosiologi ilmu, ilmu dibedakan menjadi dua yaitu sudut pandang ”internal”  yang mengacu pada ”ilmu akademis’, dan sudut pandang ”eksternal” yang mengacu pada ”ilmu industrial”.  ”Ilmu akademis” relatif lebih menekankan pada pengkayaan tubuh pengetahuan ilmiah  untuk pengambangan ilmu itu sendiri, tanpa adanya pemikiran untuk kemungkinan-kemungkinan penerapannya lebih jauh (ilmu untuk ilmu).   Sedangkan ”ilmu industrial” memusatkan diri pada pengkajian efek-efek teknologis dari pengetahuan ilmiah yang dihasilkan oleh ”ilmu-ilmu murni”. Titik beratnya pada kemampuan instrumental ilmu dalam memecahkan problem-problem praktis di segala bidang kehidupan manusia.

Pada pengertian yang lain menurut Saswinadi Sasmojo (1991), ilmu atau science  diartikan sebagai bagian dari himpunan informasi yang termasuk dalam pengetahuan ilmiah, dan berisikan informasi yang memberikan gambaran tentang struktur dari sistem-sistem serta penjelasan tentang pola-laku sistem-sistem tersebut. Sistem yang dimaksud dapat berupa sistem alami, maupun sistem yang merupakan rekaan pemikiran manusia mengenai pola laku hubungan dalam tatanan kehidupan masyarakat yang diinstitusionalisasikan.  Bila sistem yang menjadi perhatiannya merupakan sistem alami, maka disebut ilmu pengetahuan alam atau ‘natural sciences’, dan bila yang menjadi perhatian adalah sistem-sistem yang merupakan rekaan pemikiran manusia mengenai pola laku hubungan dalam tatanan kehidupan masyarakat, maka disebut ilmu pengetahuan sosial atau ‘social- sciences’

b.      Definisi Teknologi

Secara etimologis akar kata teknologi adalah ”techne”yang berarti serangkaian prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu objek atau kecakapan tertentu. Juga berarti seni atau pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau metode (Runer, 1984).

Teknologi merupakan sesuatu yang kompleks. Pengertiannya meliputi aspek pengetahuan dan bukan pengetahuan.  Dari dimensi pengetahuan, teknologi adalah penerapan dari pengetahuan ilmiah kealaman. Teknologi merupakan pengetahuan sistematis tentang seni industrial atau ilmu ”ilmu industrial”.  Teknologi juga dipandang sebagai pertengahan antara ilmu murni dan ilmu terapan atau istilah lainnya ”keahlian”.   Sedangkan dari dimensi bukan pengetahuan, teknologi diartikan sebagai suatu produksi untuk tujuan-tujuan ekonomis. Merupakan suatu sistem yang netral untuk tujuan penggunaan apapun.  Teknologi juga merupakan ungkapan kepentingan manusia untuk berkuasa.  Segala aktivitas kerja manusia untuk membantu secara fisik maupun intelektual dalam menghasilkan bangunan, produk, atau layanan yang dapat meningkatkan produktivitas manusia guna memahami, beradaptasi, dan mengendalikan lingkungannya secara lebih baik.Teknologi tidak lain sebagai artefak yang dihasilkan oleh manusia industrial modern dalamrangka memperluas kekuasannya atas jiwa dan raga. Teknologi juga dapat diartikan sebagai aktivitas dan hasil dari aktivitas yang merujuk pada pabrik-pabrik, barang, dan layanan.

Sebagai suatu sistem yang kompleks, teknologi memiliki input, komponen, output, dan lingkungan. Input teknologi berupa kekuatan-kekuatan material, keahlian, teknik, pengetahuan, alat.  Komponen teknologi berupa keahlian teknik, proses, fabrikasi, manufaktur, maupun organisasi. Output dari teknologi adalah bangunan fisik, barang, makanan, alat, organisasi, ataupun benda.  Sedangkan lingkungan dari teknologi adalah sebagai komponen kebudayaan terutama ilmu.

c.       Definisi Kebudayaan

Kata ”kebudayaan” berasal dari bahasa sansekerta ”buddhayah” yang merupakan bentuk jamak dari kata ”buddhi” yang berarti budi atau akal. Dengan kata lain, kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal. Istilah asing yang sama artinya dengan kebudayaan adalah culture berasal dari bahasa latin ”colere” yang berarti mengolah atau mengerjakan (tanah atau bertani). Dari kata tersebut, culture diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam (Soerjono Soekanto, 1982: 150).

Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi sebagaimana dikutip oleh Soerjono Soekanto (1982: 151) merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil  karya, rasa, dan cipta masyarakat.  Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk kerperluan masyarakat. Sedangkan menurut E.B.Taylor (1871) kebudayaan diartikan sebagai sesuatu yang kompleks mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Walaupun setiap masyarakat mempunyai kebudayaan yang saling berbeda satu dengan lainnya, setiap kebudayaan mempunyai sifat hakikat yang berlaku umum bagi semua kebudayaan dimanapun juga.  Adapun sifat dan hakekat dari kebudayaan menurut Soerjono Soekanto (1982: 159)  yaitu:

1)      kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia

2)      kebudayaan telah ada lebih dulu menahului lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang berangkutan.

3)      Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingah lakunya.

4)      Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiaban-kewajiban, tindakan yang diterima dan ditolak, yang dilarang dan diijinkan.

Tujuh unsur kebudayaan yang merupakan komponen universal dan relatif ada pada semua kebudayaan menurut Kluckholn  seperti yang dikutip Soejono Soekanto (1982: 154) diantaranya:

1)      peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat tumah tangga, transpostasi, senjata, alat produksi dansebagainya)

2)      mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, maritim, sistem produksi, distribusi dan sebagainya)

3)      sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi, hukum, politik, perkawainan,dansebagainya)

4)      bahasa (lesan mupun tertulis)

5)      kesenian (seni rupa, seni suara, gerak, dan sebagainya)

6)      sistem pengetahuan

7)      religi (sistem kepercayaan)

 

2. Hubungan Ilmu, Teknologi, dan Kebudayaan. 

 a.      Perbedaan Ilmu dan Teknologi

Dari definisi maupun pengertian tentang ilmu dan teknologi di atas, hampir terdapat “kekaburan”  makna antara ilmu dan teknologi. Untuk itu perlu diperjelas perbedaanya agar keduanya dapat dengan mudah diidentifikasi. 

Menurut The Liang Gie dalam Tim Dosen Filsafat UGM (2003: 154) paling tidak ada tujuh perbedaan yang ada pada ilmu maupun teknologi, yaitu:

ILMU

TEKNOLOGI

Tujuan: memahami dan menerangkan fenomena fisik, biologis, psikologis dan dunia sosial manusia secara empiris

Memecahkan masalah-masalah material manusia untuk membawa peruabahan-peruabahan praktis yang diimpikan manusia.

Berkaitan dengan pemahaman dan bertujuan meningkatkan fikir manusia

Memusatkan pada manfaat yang bertujuan menambah kapasitas kerja manusia.

Memajukan pembangkitan pengetahuan

Memajukan kapasitas teknis dalam membuat barang atau layanan

Mencari tahu

Mengerjakan

Bersifat “supra rasional”

Bersifat menyesuaikan diri dengan lingkungan tertentu

Masukan: pengetahuan yang tersedia

Masukan: material alamiah, daya alamiah, keahlian, alat, mesin, akal sehat, pengalaman dsbnya

Keluaran: pengetahuan “baru”

Menghasilkan produk tiga dimensi

a.      Persamaan Ilmu dan Teknologi

1)      Ilmu maupun teknologi merupakan unsur atau komponen dari kebudayaan

2)      Ilmu maupun teknologi memiliki aspek ideasional maupun faktual, dimensi abstrak maupun konkret, aspek teoretis maupun praktis.

3)      Terdapat hubungan yang dialektis antara ilmu dan teknologi.  Pada satu sisi, ilmu menyediakan bahan pendukung penting bagi kemajuan teknologi berupa teori-teori, pada sisi lainnya penemuan-penemuan teknologi sangat membantu perluasan cakrawala penelitian ilmiah,yakni dengan dikembangkannya perangkat penelitian berteknologi mutakhir.

4)      Sebagai klarifikasi konsep, istilah ilmu lebih tepat dikaitkan  dengan konteks teknologi, sedangkan isitilah pengetahuan lebihsesuai bila digunakan dalam konteks teknis.

b.      Hubungan Ilmu dan Teknologi terhadap Kebudayaan

1)      Hubungan Ilmu dengan Kebudayaan

Sebagaimana telah diutarakan di atas, bahwa ilmu merupakan salah satu komponen atau unsur yang penting dalam kebudayaan.  Ada kecenderungan pada saat ini ilmu memiliki peranan yang besar bahkan dominan dalam menciptakan ”dunia kemasuk-akalan”, sehingga pengetahuan-pengetahuan lainnya (non ilmiah) seperti agama, norma, dan tata nilai tertentu  terkesan termarginalkan.  Kategori ilmiah telah menjadi matra pembeda antara ”dapat dipercaya”, ”dapat dipercaya sebagian”, ”meragukan” dan ”di luar jangkauan” suatu kebenaran tertentu.

Di sisi lain, scientism yang dilatarbelakangi oleh metafisika positivistik yang ”materialistis” , sudah tentu merupakan bahaya tersendiri bagi keseimbangan dan dinamika kebudayaan.  Hal ini lebih dikarenakan bahwa pendekatan positivistik lebih menekankan pendekatan material dari kebudayaan.  Ideologi ”ilmu untuk ilmu” atau ”ilmu itu bebas nilai”  ini pada akhirnya mulai ditinggalkan karena mengingkari hubungan dialektis antara ilmu sebagai salah satu unsur kebudayaan dengan unsur kebudayaan lainnya.

Setiap kebudayaan memiliki hirarki nilai yang berbeda-beda sebagai dasar penentu skala prioritas.  Ada sistem kebudayaan yang menekankan nilai teori, dengan mendudukan rasionalisme, empirisme dan metode ilmiah sebagai dasar penentu ”dunia objektif”.  Ada pula kebudayaan yang menempatkan nilai ekonomi, nilai politis, maupun nilai religius, sebagai acuan dasar dari seluruh dinamika unsur kebudayaan yang lain.  Setiap pilihan orientasi nilai dari kebudayaan akan memiliki konsekuensi masing-masing baik pada taraf ideasional maupun operasional.

2)      Hubungan Teknologi dengan Kebudayaan

Teknologi merupakan salah satu unsur dalam kebudayaan sebagaimana unsur-unsur lainnya seperti metafisika, ilmu, filsafat, humaniora, ideologi, dan seni rupa (The Liang Gie, 1982: 88).  Teknologi lebih berperan dalam membangun ”unsur material” kebudayaan manusia.  Bila pada milenium pertama manusia bergumul antara dua aktivitas yaitu merenung dan berpikir, setelah itu manusia terlibat dalam pergulatan baru yaitu berpikir dan bertindak. 

Teknologi memiliki suatu potensi merubah kesadaran intelektual dan moral dari individu manusia. Teknologi berperan besar terhadap komponen kebudayaan lain maupun terhadap manusia secara individu.  Pada tingkat tertentu teknologi mengkondisikan ”kebudayaan baru”.  Contonya adalah teknologi komputer dengan jaringan internetnya telah mengkondisikan manusia baik secara individu maupun sosial secara berbeda dengan manusia atau masyarakat tanpa komputer.  

Kajian hubungan teknologi dengan budaya selanjutnya dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu dari sudut teknologi dan dari sudut kebudayaan.  Dari sudut teknologi, terbuka alternatif untuk memandang hubungan antara teknologi dan kebudayaan dalam paradigma positivistis atau ”teknologi tepat”.   Paradigama teknologi postivistis yang didasari oleh metafisika materrialistis jelas memiliki kekuatan dalam menguasai, mengurus, dan memuaskan hasrat manusia yang tak terbatas.  Sedangkan paradigma ”teknologi tepat” lebih menuntut kearifan manusia untuk ”hidup secara wajar”.

Dari sudut pandang kebudayaan, teknologi dewasa ini merupakan anak kandung ”kebudayaan barat”, danini berarti bahwa penerimaan ataupun penolakan secara sistemik terhadap teknologi harus dilihat dalamkerangka ”komunikasi antar sistem kebudayaan”.  Sehingga, bagi negara atau masyarakat pengembang teknologi, suatu penemuan teknologi baru merupakan momentum proses eksternalisasi dalam rangka membangun ”dunia objektif” yang baru; sedangkan bagi negara atau masyarakat yang menjadi ”konsumen teknologi” , suatu konsumsi teknologi baru bermakna inkulturasi kebudayaan, akulturasi kebudayaan, bahkan ”invasi kebudayaan”.

Adapun secara skematis hubungan antara ilmu, teknologi,dan kebudayaan dapat disajikan sebagai berikut:

 

3. Posisi Pendidikan dalam Perubahan Sosial (Kebudayaan).

a.      Teori-teori Perubahan Sosial

Sebelum membahas tentang posisi dan peran pendidikan dalam perubahan sosial (kebudayaan) ada baiknya kita pahami terlebih dulu teori-teori perubahan sosial budaya yang dikemukakan para ahli, diantaranya:

1)      Teori Evolusi Linier

  • Perubahan sosial memiliki arah tetap yang dilalui oleh semua masyarakat.
  • Semua masyarakat berkembang melalui urutan pentahapan yang sama.
  • Tahapan itu bermula dari tahap perkembangan awal menuju ke tahap perkembangan terakhir.
  • Manakala tahap terakhir telah dicapai, maka pada saat itu perubahan evolusioner pun berakhir.
  • H.M. Boodish, August Comte, Herbert Spencer, merupakan penganut teori ini.

2)      Teori Evolusi Siklus

  • Teori ini melihat adanya sejumlah tahap yang harus dilalui oleh masyarakat.
  • Peralihan masyarakat bukan berakhir pada tahap terakhir yang sempurna.
  • Melainkan berputar kembali kepada tahap awal untuk peralihan selanjutnya.
  • Setiap peradaban besar mengalami proses pentahapan : kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Proses perputaran tsb memakan waktu sekitar 1000 tahun (Oswald Spengler).

3)      Teori Fungsional

  • Teori ini menerima perubahan sebagai sesuatu yang konstan.
  • Perubahan dianggap mengacaukan keseimbangan (equilibrium) masyarakat.
  • Proses pengacauan berhenti pada saat perubahan tsb telah diintegrasikan ke dalam kebudayaan.
  • Perubahan yang bermanfaat (fungsional) akan diterima.
  • Perubahan lain yang terbukti tidak berguna (disfungsional) akan ditolak oleh masyarakat.

 

 

4)      Teori Konflik

  • Teori ini menilai bahwa yang konstan adalah konflik sosial, bukannya perubahan.
  • Perubahan hanyalah merupakan akibat dari adanya konflik tersebut.
  • Karena konflik berlangsung terus menerus, maka perubahan pun demikian adanya.
  • Perubahan akan menciptakan kelompok baru dan kelas sosial baru.
  • Konflik antar kelas sosial melahirkan perubahan berikutnya.

b.      Proses Perubahan Sosial

                  Perubahan pada lembaga kemasyarakatan yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perikelakuan antar kelompok dalam masyarakat.  Ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur material dan non material. Yang ditekankan adalah pengaruh unsur kebudayaan material terhadap unsur non material.  Adapun secara tabeling proses perubahan sosial dapat disajikan sebagai berikut:

ORIGINASI/

DISCOVERY/

INVENTION

Proses di mana suatu penemuan baru diciptakan atau ditemukan

DIFUSI

Ide-ide baru disebarluaskan ke dalam masyarakat

REINTERPRETASI/

MODIFIKASI

Perubahan yang terjadi karena masyarakat mengadopsi ide baru

c.       Pendidikan Dan Perubahan Sosial

Lembaga pendidikan (sekolah) sering dianggap sebagai salah satu lembaga sosial yang paling konservatif dan statis di masyarakat.  Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal kurang mampu mengikuti dan menanggapi arus perubahan cepat yang terjadi di masyarakat.  Supaya kegiatan pendidikan mampu membekali siswa menghadapi tantangan hidupnya di masa depan, perlu dilakukan antisipasi apa yang menjadi tantangan hidup mereka di masa depan. 

Adapun fungsi dan peran pendidikan dalam mensikapi perubahan sosial budaya tidak lepas dari fungsi lembaga pendidikan sebagai bagian dari struktur sosial yang ada memandang atas hubungan antara kebudayaan induk dan kebudayaan baru yang tengah berkembang.  Fungsi-fungsi tersebut diantaranya:

1.      Fungsi konservatif

Dalam fungsi ini, pendidikan  lebih berperan sebagai Transmisi Budaya

Pendidikan berfungsi untuk menyampaikan, meneruskan atau mentransmisi kebudayaan kepada generasi muda.  Bentuk kegiatan pemebelajaran bersifat Maintenance Learning, kegiatan belajar dilakukan, terutama untuk mempertahankan apa yang sudah ada di masyarakat sebagai warisan kultural (kebudayaan induk) yang dinilai agung lebih terhormat dan harus dilestarikan.

2.      Fugsi Transformatif

Pada fungsi ini pendidikan berperan sebagai Agent Of Change.  Pendidikan membantu generasi muda untuk menyesuaikan diri, sehingga dapat mengikuti laju perubahan yang cepat akibat perkembangan teknologi.  Sistem pembelajaran yang diterapkan lebih ditekankan pada bentuk Innovative Learning dimana  proses belajar ditujukan untuk menghadapi dan menyesuaikan dengan situasi yang baru, yang selalu berubah.  Fungsi ini lebih bersifat terbuka atas perubahan masuknya kebudayaan asing yang mungkin dapat mempengaruhi budaya induk.

 

C.  Penutup

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan point-point pokok sebagai berikut:

  1. Tidak ada yang tidak berubah dalam kehidupan (terutama sosial budaya) kecuali perubahan itu sendiri.
  2. Perubahan dapat bersifat cepat atau lambat, berkembang ke arah yang lebih baik (Progress) atau mundur ke arah sebelumnya (Regress), berujud dan dapat disaksikan (Manifest) atau hanya sekedar tersamar (Latent). 
  3. Pada konteks kebudayaan, perubahan lebih dipengaruhi oleh komponen atau unsur-unsur yang ada di dalamnya.  Dalam hal ini unsur ilmu dan teknologi berpengaruh besar atas perubahan yang berlangsung dalam suatu kebudayaan tertentu.
  4. Ilmu dapat diartikan dalam makna denotatif maupun konotatif. Dari dimensi sosiologi ilmu, ilmu dibedakan menjadi dua yaitu sudut pandang ”internal”  yang mengacu pada ”ilmu akademis’ (ilmu untuk ilmu), dan sudut pandang ”eksternal” yang mengacu pada ”ilmu industrial” (ilmu untuk kemanfaatan praktis).
  5. Teknologi merupakan sesuatu yang kompleks. Pengertiannya meliputi aspek pengetahuan dan bukan pengetahuan. Sebagai suatu sistem yang kompleks, teknologi memiliki input, komponen, output, dan lingkungan.
  6. Walaupun setiap masyarakat mempunyai kebudayaan yang saling berbeda satu dengan lainnya, setiap kebudayaan mempunyai sifat hakikat yang berlaku umum bagi semua kebudayaan dimanapun juga. 
  7. Kajian hubungan teknologi dengan budaya dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu dari sudut teknologi dan dari sudut kebudayaan. Paradigama teknologi postivistis yang didasari oleh metafisika materrialistis jelas memiliki kekuatan dalam menguasai, mengurus, dan memuaskan hasrat manusia yang tak terbatas.  Sedangkan paradigma ”teknologi tepat” lebih menuntut kearifan manusia untuk ”hidup secara wajar”.
  8. Bagi negara atau masyarakat pengembang teknologi, suatu penemuan teknologi baru merupakan momentum proses eksternalisasi dalam rangka membangun ”dunia objektif” yang baru; sedangkan bagi negara atau masyarakat yang menjadi ”konsumen teknologi” , suatu konsumsi teknologi baru bermakna inkulturasi kebudayaan, akulturasi kebudayaan, bahkan ”invasi kebudayaan”.
  9. Fungsi dan peran pendidikan dalam mensikapi perubahan sosial budaya tidak lepas dari fungsi lembaga pendidikan sebagai bagian dari struktur sosial yang ada memandang atas hubungan antara kebudayaan induk dan kebudayaan baru yang tengah berkembang.  Selanjutnya penerapan pembelajaran sebagai inti dari proses pendidikan tidak bisa terlepas dari pandangan mengenai fungsi pendidikan itu sendiri apakah lebih berfungsi sebagai lembaga konservatif budaya atau fungsi transformatif kebudayaan.

1 2 3 4 >>


 PROFIL KAMI

 STATISTIK

User Online : 1
Total hits : 927062
Pengunjung Hari ini : 18
Pengunjung Kemarin : 36
Pengunjung Bulan ini : 293
Pengunjung Tahun ini : 73857
Total Pengunjung : 404397

 KATA INSPIRASI

Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna. (Mohammad Hatta)