Relevansi Pendidikan Politik Dalam Menumbuhkan Kesadaran Politik Pemilih Pemula


2014-04-010 08:40:02 | author : Rahmad

Pemahaman kesadaran berpolitik bagi pemilih pemula perlu diaktualisasikan melalui pembelajaran yang melibatkan secara langsung pemilih pemula.  Sebab mereka merupakan sasaran yang potensial untuk mendulang suara bagi partai politik dan para calon legislatif, yang  tidak diimbangi dengan pengetahuan tentang politik yang memadai..  Pendidikan politik bagi pemilih pemula sangat penting diadakan karena pemilih pemula yang baru memasuki usia hak pilih tentunya belum memiliki jangkauan politik yang luas untuk menentukan ke mana suara mereka akan dijatuhkan (Adi Swaryati, 2011). Pentingnya pendidikan politik pemula sebagai upaya membangun kesadaran berpolitik dan memberikan pengetahuan yang memadai sehingga mereka dapat berpikir secara rasional dalam pengambilan keputusan dan penggunaan hak politik secara sadar dan rasional. Diperkirakan, dalam setiap pemilu, jumlah pemilih pemula sekitar 20 - 30% dari keseluruhan jumlah pemilih dalam pemilu. Pada Pemilu 2004, jumlah pemilih pemula sekitar 27 juta dari 147 juta pemilih. Pada Pemilu 2009 sekitar 36 juta pemilih dari 171 juta pemilih. Data BPS (2010) mempublikasikan jumlah penduduk usia 15 - 19 tahun sebanyak 20.871.086 orang, usia 20 – 24 tahun sebanyak 19.878.417 orang. Jumlah pemilih pemula yang sangat besar mempunyai nilai strategis dalam menentukan kemenangan partai politik atau kandidat tertentu yang berkompetisi dalam pemilihan umum. Itulah sebabnya, dalam setiap pemilu, pemilih pemula menjadi “rebutan” berbagai kekuatan politik.

Dibalik potensinya tersebut, pemilih pemula dihadapkan pada minimnya pengetahuan, wawasan dan pengalaman berpolitik. Karena belum punya pengalaman memilih dalam pemilu, pada umumnya banyak dari kalangan mereka yang belum mengetahui berbagai hal yang terkait dengan pemilihan umum. Mereka kurang menyadari bahwa suaranya sangat berarti bagi proses politik di negaranya. Bahkan tidak jarang mereka enggan berpartisipasi dalam pemilu dan memilih tidak menggunakan hak pilihnya alias golongan putih (golput).

Berdasarkan uraian  di atas, kita dihadapkan pada permasalahan  “Bagaimana  pendidikan politik yang dapat  menumbuhkan kesadaran politik pemilih pemula?” Melalui pendidikan politik, diharapkan pemilih pemula dapat menjadi pemilih yang cerdas yang dengan sadar menggunakan hak pilihnya dan dapat memilih pemimpin yang berkualitas demi perbaikan masa depan bangsa dan negara.

 

Pembahasan

  A. Pemilih Pemula

Pada pendidikan politik, kelompok muda yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya dalam pemilu disebut dengan Pemilih Pemula. Pemilih pemula terdiri dari masyarakat yang telah memenuhi syarat untuk memilih yaitu:

  1. Berusia . 17 (tujuh belas) tahun;
  2. sudah/pernah menikah;
  3. purnawirawan/sudah tidak lagi menjadi anggota TNI/kepolisian yang dibuktikan dengan SK pensiun dari pejabat TNI/polri yang berwenang memberikannya;
  4. Berdomisili di daerah pemilihan (dapil) sekurang-kurangnya enam bulan sebelum disahkannya daftar pemilih sementara (DPS) yang dibuktikan dengan kartu tanda penduduk (KTP).

Dalam hal seseorang belum memiliki KTP, maka ia dapat menggunakan tanda identitas kependudukan atau surat keterangan bukti domisili yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.  

 

B. Pendidikan Politik

Pendidikan politik adalah cara bagaimana suatu bangsa mentransfer budaya politiknya dari generasi yang satu ke generasi kemudian (Panggabean, 2004). Sedangkan budaya politik adalah keseluruhan nilai, keyakinan empirik, dan lambang ekspresif yang menentukan terciptanya situasi di tempat kegiatan politik terselenggara. Pendidikan politik sebagai proses penyampaian budaya politik bangsa, mencakup cita-cita politik maupun norma-norma operasional dari sistem organisasi politik yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Sehingga pendidikan politik perlu ditingkatkan sebagai kesadaran dalam berpolitik akan hak dan kewajiban sebagai warga negara, sehingga siswa diharapkan ikut serta secara aktif dalam kehidupan kenegaraan dan pembangunan.

Pendidikan politik mengupayakan penghayatan siswa terhadap nilai-nilai yang meningkat dan akan terwujud dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari dalam hidup bemasyarakat termasuk hidup kenegaraan serta berpartisipasi dalam usaha-usaha pembangunan sesuai dengan fungsi masing-masing. Dalam hal ini bertujuan agar siswa berkembang menjadi warga negara yang baik, yang menghayati nilai-nilai dasar yang luhur dari bangsanya dan sadar akan hak-hak dan kewajibannya di dalam kerangka nilai-nilai tersebut.

Pendidikan dalam sistem yang demokratis menempatkan pendidikan politik pada posisi yang sangat sentral, karena untuk mendidik warga negara tentang kebajikan dan tanggung jawab sebagai anggota civil society. Pendidikan tersebut berlaku sepanjang usia seseorang untuk mengembangkan diri, dan bukan hanya dilakukan pada lingkungan pendidikan formal seperti sekolah tetapi juga meliputi juga keluarga dan lingkungan sosial. Lembaga-lembaga pendidikan harus mencerminkan proses untuk mendidik warga negara ke arah suatu masyarakat sipil yang kondusif bagi berlangsungnya demokrasi dan sebaliknya harus dihindarkan sejauh mungkin dari unsur-unsur yang memungkinkan tumbuhnya hambatan-hambatan demokrasi.

 

C. Relevansi Pendidikan Politik dalam Menumbuhkan Kesadaran Politik Pemilih Pemula

emilih pemula merupakan segmen strategis dalam kehidupan berdemokrasi, sebab mereka memiliki jumlah yang cukup besar, yang minim pengetahuan dan wawasan politik dalam pemilu, sehingga kelompok pemilih pemula sangat rentan dengan tindak penyalah gunaan oleh kelompok politik praktis atau kepentingan tertentu.  

Pemilihan umum dilaksanakan sebagai aspresiasi masyarakat yang bisa menentukan sendiri siapa yang layak menjabat sebagai kepala pemerintahan baik di tingkat pusat maupun di daerah. Pemilihan umum yang baik dan bersih mensyaratkan adanya pemilih yang mempunyai pengetahuan, kesadaran, bebas dari intimidasi berbagai pihak, dan terhindar dari pengaruh jaminan uang (money politic). Dalam rangka ini proses pemilu perlu ditanggapi secara kritis oleh masyarakat, khususnya oleh pemilih dalam pemilu. Oleh karena itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu harus melakukan upaya melalui regulasi serta bekerjasama dengan pemangku kepentingan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam rangka peningkatan partisipasi masyarakat pemilih. Ketiadaan dukungan dari kalangan pemilih akan terasa cukup merugikan bagi target-target suara pemilu yang telah ditetapkan oleh tiap-tiap parpol.

Objek kajian politis, mestinya tidak berhenti pada kerangka hitungan suara, tetapi lebih mengacu pada aspek pencerdasan bangsa. Output dari program-program pendidikan politik bagi pemilih pemula harus mampu menumbuhkan kesadaran berpolitik sejak dini, mampu menjadikan aktor politik dalam lingkup peran dan status yang disandang, mampu mamberikan pemahaman akan hak dan kewajiban politik sebagai warga negara, dan mampu memberikan ketentuan tentang sikap dan aktifitas politiknya.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui khususnya oleh pemilih pemula, antara lain:

a. Ketahui visi, misi, dan program calon

Visi, misi, dan program partai sangat berkaitan erat dengan visi, misi, dan program calon, sehingga antara visi, misi, dan program partai dengan visi, misi, dan program calon harus dicermati secara komprehensif dan menjadi fokus utama yang perlu dicermati. Visi merupakan hal yang sangat penting dan mendasar bagi sebuah partai politik dan calon. Hal ini disebabkan visi mengandung nilai-nilai, aspirasi serta kebutuhan partai politik dan calon di masa depan. Para pemilih dan masyarakat dapat mengetahui visi partai politik dengan mencermati Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) partai. Sedangkan visi calon dapat dicermati melalui kampanye maupun pertemuan atau rapat yang telah ditentukan.

Misi biasanya mengarahkan partai politik dan calon menuju suatu tujuan yang dapat dijabarkan ke dalam program-program. Misi menempati posisi strategis, karena secara filosofis harus mampu menerjemahkan visi dan secara teknis harus mampu diimplementasikan ke dalam program. Biasanya partai politik dan calon mengemas program tersebut sebagus mungkin, sehingga program-program mereka terlihat sempurna dan menjanjikan masa depan yang lebih baik kepada para pemilih dan masyarakat. Kesalahan dalam menilai program-program akan menimbulkan kesalahan dalam menentukan pilihan yang akan mengakibatkan terpilihnya orang-orang yang tidak tepat untuk mengemban tugas-tugas kenegaraan dan pemerintahan.

b. Kenali riwayat hidup calon dan partai politiknya

Sebelum menentukan pilihan, sebaiknya pemilih mengenal dan mengetahui riwayat hidup calon dan partai politiknya. Pengenalan riwayat hidup calon tersebut, dapat berhubungan dengan latar belakang pendidikan, pekerjaan, aktifitas dalam masyarakat, dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari dengan masyarakat. Sedangkan riwayat partai politik dapat berhubungan dengan sejarah pendirian, kepengurusan, dan rekam jejak di pemilu sebelumnya (apabila bukan partai baru). Melalui pengenalan riwayat hidup, pemilih dapat menimbang baik buruknya calon dan partai politik tersebut.

c. Pastikan pilihan anda

Setelah para pemilih memiliki informasi yang cukup mengenai visi, misi, dan program partai politik dan calon, serta memeroleh data mengenai riwayat hidupnya, para pemilih dapat mendiskusikan informasi dan data itu dengan elemen yang ada di masyarakat, sehingga informasi dan data itu dapat menjadi dasar yang kuat bagi pemilih dalam menentukan pilihan. Pemilih harus memilih secara rasional, apakah calon yang akan dipilih itu benar-benar menawarkan program yang sesuai dengan kebutuhan pemilih, dan secara personal, apakah calon merupakan sosok yang betul-betul dapat dipercaya untuk dapat merealisasikan program tersebut?

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum berangkat ke tempat pemungutan suara, yaitu: 1) pastikan bahwa pemilih telah menerima surat pemberitahuan dari kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) satu hari sebelum hari pemungutan suara, apabila belum menerima surat pemberitahuan, harap hubungi petugas KPPS; 2) datang ke tempat pemungutan suara di hari pemungutan suara pada waktu yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan; 3) membawa surat pemberitahuan yang sudah diterima dan membawa kartu pemilih (untuk pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah). Penanaman pendidikan politik perlu dilakukan dan sosialisasi pemilu sangat dibutuhkan guna memperbaiki kinerja para pemimpin dan kualitas bangsa Indonesia, karena kualitas suatu bangsa itu salah satu kriterianya adalah mempunyai wakil-wakil rakyat yang berkualitas dan bersih dari tindak korupsi.

 

Kesimpulan

Pemilih pemula adalah kelompok pemilih yang baru pertamakali menggunakan hak pilihnya dalam pemilu. Pemilih pemula terdiri dari masyarakat yang telah memenuhi syarat untuk memilih. Pemilih pemula merupakan segmen strategis dalam kehidupan berdemokrasi, sebab mereka merupakan salah satu kelompok pemilih dengan jumlah yang cukup besar, akan tetapi minim pengetahuan dan jangkauan wawasan politik, sehingga rentan dengan tindak penyalahgunaan oleh kelompok politik praktis atau kepentingan tertentu demi untuk meraih suara sebanyak-banyaknya dalam pemilu.

Pengenalan proses pemilu sangat penting bagi pemilih pemula.  Pendidikan politik harus mampu memberikan kesan awal yang baik tentang pentingnya suara pemilih pemula dalam pemilu, dan suara mereka dapat menentukan pemerintahan selanjutnya dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup bangsa.

Beberapa hal yang perlu diketahui pemilih pemula, adalah : 1) visi, misi, dan program peserta pemilih, 2) riwayat hidup calon dan partai politiknya, dan 3) memastikan pilihan.

 

Saran

Beberapa saran dari tulisdn ini adalah:

  1. Bagi Pemilih Pemula, hendaknya memiliki pengetahuan, wawasan, dan kesadaran politik tentang arti pentingnya suara dan hak politik mereka dalam menentukan masa depan bangsa di masa mendatang, sehingga mereka dapat menjadi pemilih yang cerdas dan tidak menjadi objek bagi kelompok kepentingan politik dan pragmatis tertentu.
  2. Bagi Partai Politik, hendaknya tidak hanya menempatkan kelompok pemilih pemula sebagai objek kepentingan pragmatisme jangka pendek dalam mendulang suara, tetapi juga memberikan pendidikan politik yang benar dan proporsional sebagai upaya meletakkan landasan politik yang benar bagi generasi penerus bangsa.

 


1 2 3 4 >>


 PROFIL KAMI

 STATISTIK

User Online : 1
Total hits : 909153
Pengunjung Hari ini : 32
Pengunjung Kemarin : 34
Pengunjung Bulan ini : 564
Pengunjung Tahun ini : 73386
Total Pengunjung : 403926

 KATA INSPIRASI

Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna. (Mohammad Hatta)