Feature, Bukan Sebagai Berita Ganjal


2014-10-05 09:15:23 | author : admin

Berita feature acapkali dipandang dengan sebelah mata, ditempatkan sekadar sebagai ganjal pada halaman surat kabar. Feature dianggap sebagai berita "ringan" dan karenanya dianggap tidak penting. Sebab, feature lebih sering bertutur tentang "Pak Kumis, penjual lontong sayur", "Yu Ijah, penjaja jamu", atau "Ucok, sopir angkot".

Pak Kumis, Ijah, atau Ucok adalah bagian dari dunia bawah dalam strata sosial. Mereka adalah bagian dari akar rumput yang jarang mendapat liputan istimewa dari media. Para jurnalis menempatkan realitas kehidupan mereka sehari-hari dalam bentuk feature. "Buat saja feature!" Dari sinilah, kesalahan persepsi mengenai berita feature bermula. Feature yang sebenarnya adalah gaya atau cara bertutur dalam penulisan berita, kemudian dipersepsikan sebagai isi berita. Feature diidentikkan dengan berita "ringan", berita "ecek-ecek".

Pada media tertentu, kisah sehari-hari "pak Kumis", "Ijah", ataupun "Ucok" bahkan acap ditulis dengan gaya banyolan dengan bahasa yang tak jarang melecehkan mereka sebagai subjek berita. Media baru menjadikan kisah kalangan akar rumput sebagai "top story" ketika mereka bertiwikrama menjadi kekuatan yang mengancam -- secara langsung atau tidak -- tatanan sosial yang ada, sebagai massa atau kelompok anonim. Misalnya dalam aksi massa menentang sebuah rezim, atau dalam aksi buruh menggugat kesewenang-wenangan majikan, atau juga dalam amuk para pedagang kaki lima menolak penggusuran. Ketika berbicara "top story", tak ada ruang bagi feature. "Top story is totally straight news".

ISI ATAU GAYA

Feature adalah suatu cara atau gaya penulisan sebuah berita yang ciri khasnya adalah menggunakan bahasa sederhana, dengan alur cerita yang mengalir, ringan, sehingga enak untuk dibaca. Kesan "sederhana" dan "ringan" inilah yang acap disalahpersepsikan bahwa feature adalah berita ringan yang dimaksudkan untuk sekadar menghibur atau sebagai berita selingan. Kesalahan persepsi ini kemudian memengaruhi cara penggarapan feature.

Karena dianggap sebagai "berita ringan" dan "sekadar menghibur" atau "sekadar sebagai berita selingan", penulisan feature juga dilakukan secara "asal-asalan" dengan dukungan data seadanya, tanpa analisis, pengembangan konteks, dan latar belakang. Feature benar-benar menjadi sebuah berita ecek-ecek karena hanya berbicara pada aras permukaan, tanpa kedalaman, tanpa alur dan narasi. Tidak mengherankan bila kemudian feature yang demikian ini hanya dijadikan ganjal pada halaman koran yang sewaktu-waktu bisa digusur oleh jenis berita lain atau bahkan oleh sepotong iklan: "Tanya, Kenapa?"

Menulis feature sebenarnya bukan perkara mudah. Kisah pak Kumis juga bukan kisah sederhana. Feature yang baik akan mampu mengangkat kisah pak Kumis bukan saja menjadi kisah menarik dan menghibur, melainkan juga mencerahkan dan merangsang pemikiran lebih jauh. Kisah pak Kumis hanya akan menjadi kisah "ringan" bila berhenti pada data dan fakta: siapa pak Kumis, berapa usianya, berapa istri dan anaknya, berapa penghasilannya, bagaimana ia menjajakan lontongnya.

Lebih dari itu, dengan eksplorasi data lebih jauh, kisah pak Kumis sebenarnya bisa menjadi pintu masuk bagi analisis mengenai problem sosial-ekonomi dan politik lebih besar dan kompleks yang menuntut perhatian serius. Sebab, boleh jadi, pak Kumis adalah korban "revolusi hijau", korban involusi pertanian. Kekalahan yang mengakibatkan pak Kumis terdampar sebagai pekerja informal di kota adalah representasi kekalahan perangkat sosial-ekonomi tradisional menghadapi serbuan mesin industri kapitalis global. Tergantung bagaimana sudut pandang kita, pak Kumis bisa tampil sebagai "korban" yang bisa mengharu biru rasa kemanusiaan dan menggugah kesadaran eksistensial, atau bisa juga tergambarkan sebagai "pejuang" yang mampu menginspirasi bagi upaya "survival". Di sinilah, feature mempunyai potensi besar bukan sekadar sebagai cerita selingan dan hiburan. Feature juga berhak dan layak menjadi "top story".

MENULIS FEATURE

Lalu, bagaimana menulis sebuah feature yang baik? Sebuah feature yang beraroma sastra? Sebenarnya, tidak ada resep yang manjur untuk membuat feature atau karya jurnalistik sastrawi. Berbeda dari berita yang bersifat langsung (straight news), menulis feature tidak cukup hanya berbekal rumus 5W+1H.

"Straight news" menuntut penulisan yang lugas, langsung, dengan informasi yang aktual. Tekanannya pada aktualitas, efisiensi kata, dan struktur yang tegas. Sedangkan feature menuntut lebih dari itu. Karena feature, dan lebih jauh jurnalisme sastrawi, berbicara soal karakter, plot, dan narasi, pengetahuan dan pemahaman mengenai unsur-unsur dramatis dalam penulisan perlu dipelajari. Itu pun tidak bisa dipelajari sekali dua kali. Kuncinya adalah latihan, praktik, dengan terjun ke lapangan, menemui subjek peliputan, mewawancara, menggali data, memahami konteks, menuliskannya sambil terus mengkaji ulang dan menuliskannya kembali sampai menemukan alur cerita yang paling pas.

Belajar dari kisah-kisah fiksi, drama, atau film bisa membantu. Juga banyaklah menonton film-film dokumenter yang baik. Film dokumenter adalah bentuk jurnalisme sastrawi dalam dunia jurnalistik televisi (audio visual).

Diadaptasi  dari Graha Media School


1 2 3 4 >>


 PROFIL KAMI

 STATISTIK

User Online : 1
Total hits : 962578
Pengunjung Hari ini :
Pengunjung Kemarin :
Pengunjung Bulan ini :
Pengunjung Tahun ini :
Total Pengunjung :

 KATA INSPIRASI

Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna. (Mohammad Hatta)