Guru Harus Terhindar dari Penyakit Guru Masa Kini


2013-11-20 10:31:14 | author : Kintoko

Membicarakan masalah pendidikan tidak akan pernah habisnya.  Karena dalam hidup ini semua manusia hakikatnya senantiasa mengalami proses pendidikan dan pembelajaran (pembelajaran sepanjang hayat).  Keberhasilan pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor.  Namun untuk pendidikan di sekolah maka faktor paling berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan adalah guru.

Guru sebagai aktor utama, agen perubahan dan pentransfer ilmu pengetahuan.  Maka guru dituntut untuk mau dan mampu menjadi sosok yang mumpuni dalam bidangnya. Guru dituntut untuk melaksanakan tugasnya yang sangat mulia itu secara professional.

Hingga saat ini peningkatan mutu pendidikan masih jauh api dari panggang.  Berbagai upaya peningkatan profesionalisme guru belum menunjukkan hasil yang memuaskan.  Bahkan sebagian besar guru saat ini masih dihinggapi berbagai penyakit mental yang menghambat pencapaian tujuan pendidikan.  Apa saja penyakit itu?

Pertama, ASMA(asal masuk kelas). Guru melaksanakan tugas mendidik dan mengajar asal masuk kelas sesuai jadwal, tanpa ada persiapan materi maupun metode pembelajaran yang akan digunakan.

Kedua, ASAM URAT (Asal Sampai Materi Urutan Tidak Akurat).  Guru tidak menguasai materi dengan matang, disampaikan secara monoton yang penting cepat selesai.

Ketiga, BATUK (Baca Terus Ngantuk).  Guru harusnya sebagai sosok yang banyak membaca untuk menambah wawasan keilmuannya.  Tapi tak jarang guru yang baru sedikit membaca sudah merasa ngantuk, tak bersemangat.

Keempat, DIARE (Di Kelas Anak Diremehkan). Proses belajar mengajar secara monoton, guru sebagai pusatnya.  Tidak mempedulikan potensi, minat dan bakat siswa.  Tidak mengembangkan potensi, minat dan bakat siswa tapi justru membunuhnya.

Kelima, DIABETES (Di Hadapan Anak bekerja tidak serius).  Ketika menyampaikan materi tidak sungguh-sungguh, hanya sekedarnya saja.

Ke enam, GATAL (gaji tambah aktivitas lesu).  Inginnya gaji terus meningkat, tapi dalam melaksanakan kewajiban tidak ada perubahan, tetap saja malas.  Bahkan yang gajinya berlipat dengan tunjangan profesipun tidak ada perubahan signifikan dalam kinerja.

Ketujuh, GINJAL ( Gaji nihil jarang aktif dan lamban).  Gajinya tiap bulan minus karena tagihan kredit, gairah dan semangat kerja hilang.  Tugas-tugas tidak segera dilaksanakan sampai menumpuk, karena lambat dalam berpikir dan beraksi.

Kedelapan, KUSTA (kurang sayang terhadap anak).  Tidak paham kondisi siswa, inginnya memaksakan kehendak.  Tidak jarang berbuat kekerasan ketika siswa berbuat sedikit kesalahan saja.

Kesembilan, PUSING (pasif usaha sering ngerumpi).  Ketika ada waktu senggang tidak digunakan untuk aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan dan kemajuan siswa.  Lebih sering untuk ngerumpi, ngrasani teman dan kepala sekolah.

Kesepuluh, TBC (Tidak Bisa Computer).  Di era global ini masih banyak guru gagap teknologi.  Pegang komputer merasa grogi dan takut.  Bila ada tugas tidak bisa mengerjakan sendiri , puas dengan bantuan orang lain atau jasa rental.

Itulah beberapa penyakit yang masih bersemayam pada sebagian besar guru masa kini.  Nah, saatnya guru instropeksi masihkah menderita penyakit-penyakit itu? Bila masih cukup banyak yang diderita maka tiada kata lain harus segera meluruskan niat untuk berusaha mengobatinya.  Kuncinya, mulailah dari sekarang juga, mulailah dari yang kita bisa dan teruslah berjuang tanpa mengenal putus asa.  Karena di pundak guru lah masa depan generasi muda, masa depan bangsa dan negara ini.  Maka, teruslah berjuang para Pahlawan Penuh Tanda Jasa, Pahlawan Pendidikan Negeri ini. (kintoko)

Oleh : Kintoko, S.Pd.
Guru SMP PGRI Kasihan Yogyakarta
ilustrasi gambar : dinnikurnaeni.blogspot.com


1 2 3 4 >>


 PROFIL KAMI

 STATISTIK

User Online : 1
Total hits : 962073
Pengunjung Hari ini :
Pengunjung Kemarin :
Pengunjung Bulan ini :
Pengunjung Tahun ini :
Total Pengunjung :

 KATA INSPIRASI

Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna. (Mohammad Hatta)