Media Televisi Dalam Pembelajaran


2014-09-17 10:06:17 | author : admin

Untuk memberikan gambaran yang utuh tentang cara  menggunakan  media  televisi dalam pembelajaran, berikut ini akan disajikan berbagai ilustrasi penggunaan media televisi dalam kegiatan pembelajaran untuk beberapa mata pelajaran.

Ibu Cempaka, adalah seorang guru biologi di salah satu SMU yang terletak di jantung kota Jakarta. Keberadaan sekolah yang terletak di jantung kota ini, sering kali menyulitkan baginya untuk memberikan pengalaman nyata kepada siswanya mengenai materi yang disampaikannya. Contonya pada saat ia akan menjelaskan sumber makanan baru sebagai alternatif pemenuhun protein bagi manusia. Ia ingin menjelaskan salah satu pemenuhan protein didapatkan dari Bekicot sejenis keong. Mungkin bagi siswa yang tinggal di desa, bekicot bukanlah binatang yang aneh karena mereka sering bertemu dengan binatang ini. Tetapi bagi mereka yang tinggal di antara hutan beton kota Jakarta, binatang ini keberadaannya sangat langka, bahkan mungkin di antara mereka ada yang belum pernah melihatnya secara langsung. Nah, apa yang dilakukan Ibu Cempaka untuk mengatasi masalah ini?

Dengan memberanikan diri ia mencoba meminjam copy pro-gram televisi “Sumber Makanan Baru” yang pernah ditayangkan oleh Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Selanjutnya dengan meminjam Video Tape dan memanfaatkan pesawat televisi milik sekolah, Bu Cempaka dan siswanya dapat menyaksikan tayangan program televisi “Sumber Makanan Baru”.

Pada awalnya, tayangan program tersebut terasa aneh bagi siswa, ada yang berkomentar tidak menarik, ada yang mengatakan lebih bagus kalau yang ditayangkan film cerita, dan sebagainya. Tetapi setelah mereka diminta mendiskusikan beberapa hal dari tayangan tersebut, barulah mereka menya-dari bahwa yang mereka saksikan adalah materi pelajaran. Akhirnya mereka meminta untuk ditayangkan sekali lagi.

Apa yang harus didiskusikan siswa? Hal inilah yang harus dirancang oleh guru sebelum ia menggunakannya di dalam kelas. Oleh karena itu suatu keharusan bagi seorang guru melihat terlebih dahulu program yang akan digunakannya.

Apa yang diminta Bu Cempaka untuk didiskusikan siswanya dari tayangan program “Sumber Makanan Baru” tersebut? Tentu banyak, di antaranya mengenai besarnya kandungan protein yang terdapat pada Bekicot, kemungkinan budi daya bekicot, Bekicot sebagai sumber makanan baru ditinjau dari sudut agama, dsb.

Untuk hasil diskusi, kepada setiap kelompok diminta untuk membuat laporan tertulis, yang selanjutnya dipre- sentasikan di depan kelas dan dibahas  bersama-sama.

Dari ilustrasi di atas, apa yang dapat kita simpulkan dari penggunaan media televisi yang dilakukan oleh Bu Cempaka?

  • Media televisi dapat menjembatani keterbatasan pengalaman siswa terhadap objek yang langkah.
  • Media televisi mampu memberikan pengalaman nyata kepada siswa.
  • Media televisi memicu keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran (melalui kegiatan diskusi yang dirancang oleh guru).
  • Media televisi mendorong muculnya pola pebelajaran yang bervariasi (seperti diskusi, melakukan kajian pus- taka, melakukan penelitian lapangan, membuat laporan ilmiah, presentasi, dan sebagainya).
  • Media televisi membuat pesan yang disampaikan sulit dilupakan oleh siswa.

Melihat manfaat yang diberikan media televisi, tentu Anda tertarik untuk mencobanya. Selain itu ternyata cara menggunakan media televisi dalam pembelajaran tidak sesulit yang kita bayangkan. Coba kita lihat apa yang dilakukan oleh Bu Cempaka.

  • Mengidentifikasi materi dan kebutuhan medianya.
  • Menjajaki media yang dibutuhkan, dalam hal ini pro- gram (software) dan peralatan (hardware).
  • Menonton terlebih dahulu program yang akan digunakan.
  • Merancang topik-topik yang akan didiskusikan.

Menyusun rancangan kegiatan sebagai tindak lanjut dari penggunaan media televisi, seperti menentukan format diskusi, melakukan kajian pustaka, penelitian lapangan, menentukan format laporan, mengatur tek- nik presentasi, dan sebagainya). Program televisi pada dasarnya tidak terbatas pada program yang diproduksi dengan biaya yang mahal atau dengan peralatan produksi yang lengkap dan mahal. Program televisi bisa saja dikembangkan secara sederhana dengan biaya murah dan peralatan yang sangat terbatas. Yang penting, program tersebut harus bermuatan pesan pembelajaran dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Mari  kita simak ilustrasi berikut ini.

Pak Martono adalah seorang guru Geografi yang penuh dengan kreatifitas. Meski mata pelajaran yang diasuhnya tidak termasuk matapelajaran yang bergengsi seperti mate-matika, fisika, kimia, dan biologi; tetapi siswanya selalu menanti kehadirannya di dalam kelas. Bukan karena paksaan, tetapi lebih disebabkan ketertarikan mereka pada cara mengajar pak Martono. Penuh semangat, kreatif, dan selalu menyajikan hal-hal yang baru bagi siswa. Selain sering memanfaatkan program televisi yang sudah ada, ia juga membuat sendiri pro-gram video untuk kebutuhan mengajarnya. Dengan menggunakan kamera video milik sekolah, Pak Martono merekam berbagai macam informasi, mulai dari pemandangan alam, kehidupan para nelayan, hutan gudul, hutan terbakar, banjir, sampai kepada hal-hal yang kejadiaanya sangat jarang seperti gerhana matahari, gerhana bulan dan sebagainya. Meskipun gambar yang dihasilkan dari segi kualitas kurang memadai, namun dari aktualitas pesan mampu menarik perhatian siswa. Suatu ketika ia membuat rekaman tanah gersang seluas mata memandang. Ketika kamera diarahkan pada tahah yang retak-retak karena kekeringan, sementara narasinya berkomentar, sampai berapa lamakah ini akan terjadi? Mengapa harus ada kemarau panjang ini? Apakah ini murka Tuhan, atau hukum alam yang harus terjadi? Meskipun dari segi gambar cukup sederhana dan dari segi narasi cukup pendek, namun hasil rekaman Pak Martono mampu mengundang diskusi yang mendalam dan mendorong kepedulian para siswanya untuk berbuat sesuatu.

 

Bagaimana? Tentu Anda juga dapat menjadi Pak Martono Martono lain, yang selalu menyajikan materi pelajarannya secara menarik, bermakna, dan akhirnya menimbulkan sikap yang positip. Pelajaran Geografi tidak lagi sebagai pelajaran hafalan akan tetapi lebih menitik beratkan pada bekal untuk kehidupan, karena pengetahuan tentang Geografi termasuk belajar bagaimana kita harus menyikapi kehendak alam. Dari pengalaman pak Martono, apa yang dapat diberikan media televisi untuk tujuan pembelajaran?
Media televisi mampu mengadirkan berbagai peristiwa alam ke dalam kelas.

Bagaimana? Tentu Anda juga dapat menjadi Pak Martono Martono lain, yang selalu menyajikan materi pelajarannya secara menarik, bermakna, dan akhirnya menimbulkan sikap yang positip. Pelajaran Geografi tidak lagi sebagai pelajaran hafalan akan tetapi lebih menitik beratkan pada bekal untuk kehidupan, karena pengetahuan tentang Geografi termasuk belajar bagaimana kita harus menyikapi kehendak alam. Dari pengalaman pak Martono, apa yang dapat diberikan media televisi untuk tujuan pembelajaran?

  • Media televisi mampu mengadirkan berbagai peristiwa alam ke dalam kelas.
  • Media televisi mampu mengatulisasikan pesan.
  • Media televisi mampu menarik perhatian siswa dan mendorong terciptanya diskusi yang mendalam.
  • Media televisi mampu mendorong perubahan sikap yang positip.

Dari kedua ilustrasi di atas, kita dapat melihat bagaimana media televisi digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Baik itu dengan memanfaatkan program yang sudah ada maupun program yang dibuat sendiri dengan cara yang sangat sederhana. Nah, tentu selain itu masih ada cara yang lain, yaitu seperti yang dilakukan Ibu Tuti berikut ini.

Bu Tuti, adalah seorang guru Bahasa Inggris. Secara teknis ia tidak banyak mengalami kesulitan untuk mendapatkan program- program yang mendukung pembelajarannya. Baik itu program audio maupun program televisi yang siap pakai. Namun demikian ia selalu ingin menampilkan sesuatu yang baru di depan siswanya. Suatu ketika ia ingin mengajarkan cara menggunakan kalimat pada kondisi-kondisi tertentu, sehingga tercipta suatu kesesuaian kalimat dengan ekspresi wajah maupun gerak tubuh. Apa yang dilakukan Bu Tuti? Ia merekam cuplikan adegan- adegan film tertentu dari siaran televisi. Setiap adengan tidak lebih dari tiga menit. Kemudian dengan menggunakan rekaman cuplikan berbagai adegan itulah Bu Tuti mengajar siswanya. Apa yang terjadi? Luar biasa, siswanya sangat antusias.

Sesungguhnya apa yang dilakukan Bu Tuti bukan hal sulit. Dengan sedikit kemauan ia dapat menciptakan suasana yang berbeda dalam cara mengajarnya. Berbeda dalam strategi mengajar dan berbeda pula dalam hasil yang dicapai siswanya. Jadi apa yang telah dilakukan Bu Tuti, sesungguhnya adalah adanya kesadaran yang mendalam mengenai peranan visual yang tidak dapat digantikan dengan kata-kata. Lain halnya Bu Cempaka, Pak Martono, dan Bu Tuti, maka lain pula dengan Pak Nyoman.

Pak Nyoman, sebagai seorang instruktur di suatu bank, sangat menyadari bahwa mutu pelayanan bank yang baik dapat meningkatkan jumlah nasabah, yang berarti akan meningkatkan keuntungan bank. Berangkat dari kepercayaan ini, ia selalu berusaha agar setiap teller (sebagai orang yang berhadapan langsung dengan nasabah) harus mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Apa yang dilakukannya pada saat memberikan pelatihan pada para calon teller?. Pertama, ia menyadari pelatihan para calon teller sangat berhubungan dengan masalah sikap, dimana seorang teller harus menjadikan dirinya selain mampu bekerja secara cepat dan akurat juga bertindak sebagai pelayan yang ramah, tulus, mudah senyum, responsip dan berpenampilan menarik. Kedua, untuk mendapatkan hasil pelatihan yang baik, maka kepada perserta selain diberi teori perlu adanya satu model pelayanan yang baku (standard) yang dapat dijadikan contoh atau acuan oleh para peserta pelatihan (teller). Dari kedua hal di atas, Pak Nyoman memutuskan untuk memperlihatkan model pelayanan yang baik kepada peserta pelatihan. Namun ada beberapa alternatif yang perlu dipertimbangkan: 

  • mengajak peserta pelatihan berkunjug ke salah satu bank yang pelayanannya dianggap baik;
  • memodelkan (simulasi) cara pelayanan yang baik di dalam kelas; dan
  • memperlihatkan model-model pelayanan yang baik melalui media televisi (program video). Ketiga alternatif di atas dianalisis satu persatu untuk mendapatkan alternatif yang terbaik.

Kunjungan sesungguhnya merupakan suatu pendekatan yang baik, dimana peserta dapat melihat secara langsung bagaimana seorang teller melayani nasabah. Namun disisi lain kunjungan mempunyai kekurangan. Kunjungan akan memakan waktu yang banyak sebab harus meninggalkan kelas. Selain itu kunjungan tidak mungkin dilakukan secara bergerombol sebab akan mengganggu aktivitas bank yang dikunjungi. 

Simulasi dapat dilakukan di dalam kelas dan hampir semua harapan yang ingin dicapai dapat diwujudkan dengan simulasi. Namun sama halnya dengan kunjungan simulasi jugan memiliki kelemahan yaitu ketepatan (kualitas) simulasi sangat tergantung pada kondisi yang memerankan. Artinya, bila yang memerankan perasaannya lagi senang, maka hasilnya akan baik; tapi bila perasaannya lagi kacau, hasilnya mungkin tidak sebaik yang diharapkan. Dengan demikian peserta sulit untuk mendapatkan satu model pelayanan yang akan ditirunya. Bagaimana dengan media televisi?

Media televisi, tampaknya adalah pilihan terakhir Pak Nyoman. Setelah dianalisis media televisi:

  • dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menyajikan model-model pelayanan yang baik (standard).
  • dapat pula menggambarkan setting (situasi bank) yang sesungguhnya. tidak terpengaruh oleh keadaan atau emosi pengajar (tidak) bersemangat, kesal, kurang percaya diri, dsb), sehingga mampu memberikan contoh yang akurat meskipun ditampilkan berulang kali. dapat diperbanyak, sehingga memungkinkan peserta menyaksikannya dimana saja dan kapan saja.

Dari analisis terhadap ketiga alternatif yang ada, pak Nyoman memutuskan untuk menggunakan media televisi (program video) tentang “Pelayanan Prima”. Selanjutnya, apa yang dilakukan pak Nyoman dengan media televisi tersebut? Di awal pertemuan kepada peserta dijelaskan pentingnya suatu pelayanan yang baik dalam upaya menarik minat nasabah. Suatu penjelasan yang didasari oleh teori-teori psikologi, komunikasi, dan hasil-hasil penelitian mengenai pengaruh dari suatu pelayanan yang baik terhadap citra suatu bank. Setelah itu, barulah dijelaskan ciri-ciri pelayanan yang baik.

STOP
Coba Anda bayangkan sejenak,apa yang terjadi bila cara pelayanan yang baik dijelaskan secara verbal saja.

Ternyata, Pak Nyoman melakukannya dengan baik dan sangat tepat. Penjelasan untuk cara-cara pelayanan yang baik dilakukannya dengan menayangkan program video yang berjudul “Pelayanan Prima”. Sampai di sini peserta telah mendapat gambaran atau bentuk suatu pelayanan yang baik. Semua peserta mempunyai satu konsep, selanjutnya peserta diminta untuk mempraktekkannya dan mendiskusikan secara bersama-sama untuk me- nyempurnakan hasil yang telah dicapai peserta. Apa yang dilakukan pak Nyoman hanyalah seba-gian kecil dari sekian banyak permasalahan SDM yang harus disampaikannya. Media televisi ternyata banyak membantu dalam tugas-tugasnya. Perkembangan media televisi ternyata dapat pula memberikan alternatif lain dalam bidang keilmuan yang menuntut kegiatan praktikum. Misalnya dalam kegiatan praktikum kimia. Dengan mengembangkan program- program berupa petunjuk kerja laboratorium, maka diharapkan proses pembimbingan siswa untuk kegiatan praktikum, sebagaian dapat dilakukan  dengan berbantuan media televisi. Ini berarti kegiatan praktikum dapat dilakukan secara mandiri oleh siswa (tanpa bimbingan guru laboratorium). Selain itu dengan tersedianya ber- bagai program petunjuk kerja laboratorium dapat pula memberi alternatif   dalam sistem pengelolaan laborato- rium yang sekarang ini. Misalnya dengan tersedianya program-progran yang berisi petunjuk untuk melakukan percobaan akan memberi kemungkinan bagi siswa untuk melakukan praktikum kapan saja. Pendekatan ini diha- rapkan membuat lab. sebagai sarana penelitian yang sangat produktif.

Mungkin ini tampaknya suatu hal yang sangat baru dalam sistem pengelolaan lab. Namun melihat kemampuan media televisi yang dapat memindahkan berbagai peristiwa nyata kedalam layar kaca sacara akurat, maka tidak mustahil pula bila penjelasan guru lab. tentang bagaimana melakukan praktikum dapat pula dipindahkan kedalam layar kaca. Hal yang sama juga, sesungguhnya sudah diterapkan dalam bidang kedokteran, politeknik, dan bidang-bidang lain dengan hasil sangat memuaskan. Bagaimana prosedur penerapannya?. Coba kita simak apa yang dilakukan siswa  berikut ini.

Lia seorang siswa dari Sekolah Analis Kimia yang akan melakukan praktikum. Setelah mendapat teori tentang Asam dan Basah, Lia ingin membuktikan kebenaran teori tersebut. Sehabis pulang sekolah Lia pergi ke laboratorium sekolahnya yang buka sampai jam 20.00. Sesampai di lab. Lia melapor ke petugas lab. dan mengisi lembar permohonan praktikum. Setelah itu ia pergi keruang play-back dan mengambil program televisi tentang petunjuk kerja laboratorium yang berjudul Asam dan Basah. Dengan mengopearasikan sendiri video player yang ada Lia mengamati secara cermat mengenai prosedur melakukan percobaan. Apabila ada yang kurang jelas Lia mengulang kembali disamping membuat catatan kecil. Setelah merasa yakin dapat melakukan percobaan, ia mengajukan permintaan bahan-bahan praktikum kepada petugas sesuai dengan percobaan yang akan dilakukan.

Dengan adanya penjelasan secara visual yang baru dilihatnya Lia dapat melakukan percobaan tanpa bimbingan guru lab. Setelah Lia selesai melakukan percobaan Lia melapor kembali ke petugas lab. untuk meminta penilaian terhadap hasil percobaannya.

Dari beberapa ilustrasi pemanfaatan media televisi dalam pembelajaran, khususnya di kelas; tentu telah menambah pemahaman kita tentang kemampuan media televisi dalam menyampaikan pesan, meperjelas materi, menyederhanakan pesan yang kompleks, mengkonkrit- kan konsep-konsep yang abstrak, membimbing belajar mandiri, dan mempermudah mencapai tujuan pembela- jaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

 


1 2 3 4 >>


 PROFIL KAMI

 STATISTIK

User Online : 1
Total hits : 962146
Pengunjung Hari ini :
Pengunjung Kemarin :
Pengunjung Bulan ini :
Pengunjung Tahun ini :
Total Pengunjung :

 KATA INSPIRASI

Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna. (Mohammad Hatta)