Mengenal Media Televisi


2014-10-17 10:22:32 | author : admin

Media televisi adalah media elektronik yang memanfaatkan kekuatan gambar dan suara dalam mempengaruhi penontonnya. Gambar adalah kekuatan utama dan suara sebagai pelengkap atau penguat gambar yang ada. Dengan kedua kekuatan tersebut media televisi mampu mempengaruhi emosi setiap penontonnya. Anda tentu masih ingat dengan tayangan serial televisi yang diperankan oleh Ibu Subangun. Gambar (acting) dan suara (kata-kata) Ibu Subangun yang tampil sebagai tokoh yang suka usil dan cerewet sangat mempengaruhi emosi para penontonnya. Emosi (reaksi) penonton terhadap karakter Ibu Subangun  menimbulkan kesan yang begitu mendalam, sehingga konon pada suatu ketika ia pernah dicacimaki bahkan di tampar oleh penontonnya.  Atau mungkin Anda pernah menyaksikan adegan orang menagis sambil meratap, kemudian tanpa sadar kita terhanyut dalam adegan tersebut, dan  akhirnya kita merasa iba dan turut menangis. Atau mungkin Anda pernah menjadi hakim dari suatu adegan tertentu yang Anda lihat di layar televisi. Anda begitu emosional untuk memutuskan siapa salah dan siapa yang benar.

Media televisi adalah media elektronik yang memanfaatkan kekuatan gambar dan suara dalam mempengaruhi penontonnya. Gambar adalah kekuatan utama dan suara sebagai pelengkap atau penguat gambar yang ada. Dengan kedua kekuatan tersebut media televisi mampu mempengaruhi emosi setiap penontonnya. Anda tentu masih ingat dengan tayangan serial televisi yang diperankan oleh Ibu Subangun. Gambar (acting) dan suara (kata-kata) Ibu Subangun yang tampil sebagai tokoh yang suka usil dan cerewet sangat mempengaruhi emosi para penontonnya. Emosi (reaksi) penonton terhadap karakter Ibu Subangun  menimbulkan kesan yang begitu mendalam, sehingga konon pada suatu ketika ia pernah dicacimaki bahkan di tampar oleh penontonnya.  Atau mungkin Anda pernah menyaksikan adegan orang menagis sambil meratap, kemudian tanpa sadar kita terhanyut dalam adegan tersebut, dan  akhirnya kita merasa iba dan turut menangis. Atau mungkin Anda pernah menjadi hakim dari suatu adegan tertentu yang Anda lihat di layar televisi. Anda begitu emosional untuk memutuskan siapa salah dan siapa yang benar.

Ilustrasi di atas sekedar ingin melukiskan, bagaimana gambar dan suara mampu mempengaruhi emosi penonton. Nah, andaikata keterlibatan secara emosional ini muncul dalam konteks pembelajaran, tentu dapat kita bayangkan betapa berkesannya materi yang dipelajari dalam diri siswa. Sebab keterlibatan emosional dalam mempelajari sesuatu adalah hal yang positip. Keterlibatan emosional akan memberi kesan mendalam terhadap sesuatu yang dipelajari dan akhirnya akan memberikan dampak jangka panjang. Kemampuan seperti ini tentunya sangat sulit diperoleh melalui media lain Media televisi adalah media yang dapat menayangkan gambar sesuai dengan objek aslinya. Anda tentu pernah melihat artis kesayangan  Anda  di alam nyata (tidak di layar televisi), kemudian Anda juga melihatnya di layar televisi. Apa kesimpulan Anda tentang artis tersebut? Apakah ia berbeda atau sama saja? Tentu sama saja. Karena media terlevisi adalah media yang tidak terlibat kolusi yang dapat membuat bayangan objek berbeda dengan objek aslinya. Media televisi adalah media yang mengahsilkan gambar sesuai dengan aslinya. Ini berarti media televisi mampu pula menghadirkan berbagai peristiwa ke hadapan penonton sama seperti kejadian yang sesungguhnya. Pada saat kematian Putri Diana, kita dapat menyaksikan peristiwa pemakamannya di Indonesia melalui media televisi. Apa yang kita saksikan di televisi sama seperti kejadian di Inggris, dan pada saat yang sama pula.

Selain kemampuan memindahkan bayangan objek sesuai dengan aslinya, media televisi memungkinkan penonton menyaksikan berbagai fenomena alam yang sulit diamati, baik itu karena jaraknya sangat jauh, peristiwanya sudah lampau, atau kejadiannya memiliki risiko tinggi bila dilihat dari dekat. Tentu Anda masih ingat peristiwa gerhana matahari total beberapa tahun  lalu, kemudian peristiwa pendaratan manusia di bulan, peristiwa perang dunia ke dua, peristiwa meletusnya gunung merapi, dan lain sebagainya. Semuanya dapat kita saksikan melalui layar televisi. Baiklah, dari ilustrasi di atas, apa yang bisa kita manfaatkan untuk kegiatan pembelajaran di kelas? Apakah Anda masih mengatakan bahwa media televisi belum waktunya digunakan sebagai media pembelajaran? Secara jujur, kita tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada perkembangan pengetahuan siswa kita bila tidak ada media televisi. Siswa kita akan ketinggalan kereta pengetahuan. 

Sebagai media visual media televisi dengan teknik pengambilan close-up mampu melakukan pembesaran objek ribuan kali dari ojek aslinya. Kemampuan ini tentunya suatu kelebihan yang tidak dimilkiki media lain; dan dengan kemampuan ini pula media televisi sangat efektif bila digunakan untuk mengajarkan berbagai pengetahuan yang sulit dilihat dengan mata telanjang, karena objeknya terlalu kecil. Seperti pengamatan terhadap semut, nyamuk, bahkan sampai kapada bakteri atau yang lainnya.

Bagi dunia kedoteran, penggunaan media televisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Dikatakan demikian, karena hampir sebagian besar perkembangan teknologi kedokteran menyertakan peranan televisi di dalam kegiatannya. Seperti untuk mengamati bagaian- bagian tertentu dalam tubuh manusia; untuk mengajarkan berbagai materi yang sulit dilihat mata telanjang, seperti perkembang biakan sel, virus, bakteri, dan lain sebagainya. Nah, kalau dunia kedokteran sudah menggunakannya untuk berbagai kegiatan pembelajaran, mengapa dunia persekolahan belum menggunakannya? Tentu jawabannya ada pada Anda sebagai guru, dosen, maupun instruktur, khususnya yang mengelolah bidang ilmu Biologi, Fisika, dan Kimia.

Media televisi adalah media visual gerak (motion pictures) yang dapat diatur percepatan gerakannya (gerak dipercapat atau diperlambat). Hal ini memungkinkan media televisi efektif bila digunakan untuk mengajarkan pegetahuan yang berhubungan dengan unsur gerak (motion). Gerak diperlambat misalnya, akan efektif bila digunakan untuk mengamati posisi-posisi sulit dalam bidang olahraga. Misalnya posisi seorang pelompat gala pada saat berada di atas mistar; posisi pelari pada saat menyelesaikan finish apabila terjadi bersamaan; atau untuk mengamati berbagai gerakan lainnya. Unsur gerak ini tentunya tidak terbatas pada bidang olahraga saja. Pada mata pelajaran fisika misalnya, dapat digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan gerak; seperti, gerak jatuh suatu benda, gerak peluru, dan sebagainya.

Media televisi media yang memiliki kemampuan memanipulasi pesan sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu media televisi efektif bila digunakan untuk mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan sikap (attitude). Dunia anak-anak sebagai fase pembentukan sikap sangatlah efektif bila menggunakan media televisi. Melalui program-program yang dirancang sesuai dengan fase perkembangan anak misalnya, anak-anak tentu akan tertarik untuk menontonnya. Dari ketertarikan ini selanjutnya mereka mulai meniru hal-hal yang dilihatnya. Oleh karena itu program yang akan disajikan kepada anak-anak harus melalui seleksi yang sangat ketat, khususnya untuk kebenaran pesannya. Kemampuan memanipulasi pesan ini, bukan saja efektif untuk sasaran persekolahan, namun dapat pula digunakan dalam berbagai pelatihan. Pelatihan dalam bidang perbankan misalnya, media televisi dapat digunakan untuk mengajarkan materi tertentu dengan benar, menarik dan   konsisten. Misalnya untuk mengajarkan cara-cara pelayanan yang baik kepada nasabah, dan sebagainya. Media televisi adalah media yang dapat menyederhanakan pesan yang komplek. Dengan kekuatan gambar (visual) yang dimilikinya, media ini sangat efektif untuk menyederhanakan pesan yang kompleks. Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa satu gambar dapat becerita seribu kata. Ini artinya bahwa pesan yang secara verbal dituturkan dengan seribu kata dapat diwakili hanya dengan satu gambar saja.   Bukan main !!!

Media televisi mampu mengkonkritkan pesan yang abstrak. Ini berarti media televisi dapat menjembatani berbagai pesan yang sulit bila dijelaskan hanya dengan kata-kata. Konsep-konsep matematika misalnya dapat dikonkritkan dengan media ini, sehingga   mempelajari matematika menjadi sesuatu yang menyenangkan, khususnya untuk jenjang pendidikan dasar sampai dengan menengah.

Media televisi adalah media yang dapat menyamakan persepsi. Hal ini dimungkinkan karena media televisi merupakan media visual yang dapat menghasilkan gambar sesuai dengan aslinya. Sehingga dengan kemampuan tersebut, media televisi sangat efektif untuk menghilangkan interpretasi ganda dari pesan tertentu. Mungkin Anda bisa membayangkan apa jadinya bila guru mengajarkan secara verbal tentang alat transportasi (kereta api), kepada siswanya yang belum pernah melihat transportasi tersebut baik langsung atau melalui gambarnya. Mungkin, apabila ada sepuluh anak yang mendengarkan, jangan terkejut bila terdapat sepuluh persepsi tentang kereta api. Hal ini terjadi karena setiap siswa mempunyai interpretasi yang berbeda terhadap pesan yang disampaikan. Hal ini tentu tidak akan terjadi bila guru tersebut menggunakan media visual. Dari uraian di atas, sekarang Anda tentunya lebih mengenal, apa itu media televise. Suatu fakta memperlihatkan bahwa media televise merupakan media audio visual yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan jenis media visual lainnya. Nah, mengapa sampai saat ini media televisi belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya dalam kegiatan pembelajaran di sekolah?. Hal ini akan kita bahas pada sajian berikut. Namun sebelum itu kita akan membicarakan terlebih dahulu tentang sistem pengiriman pesan pada media televisi.

Sistem Pengiriman Pesan Untuk sistem pangiriman pesannya, media televisi menggunakan dua cara yaitu, melalui sistem  pemancar (broadcast system) dan sistem kabel (cable system). Melalui sistem pemancar (broadcast system), gambar dan suara dikirim ke penonton melalui udara dengan menggunakan sistem transmisi satelit, sehingga   daya jangkaunya menjadi sangat luas, meliputi seluruh nusantara, bahkan sampai ke negara lain. Hasil dari sistem broadcast ini adalah siaran televisi yang kita tonton di rumah mulai dari pagi sampai malam hari. Melalui  sistem  kabel  (cable  system)  adalah  system pengiriman pesan dengan menggunakan kabel. Secara teknis sistem ini meliputi: sistem video (video system), Close Circuit Television (CCTV), dan TV kabel (cable television). Adapun yang membedakan satu dengan lainnya adalah daya jangkaunya, sedangakan untuk program yang digunakan pada dasarnya sama.

Sistem Video, sitem ini dikenal juga dengan system playback. Hal ini sesuai dengan fungsinya yaitu untuk melihat ulang hasil suatu rekaman (program) tertentu. Karena daya jangkaunya sangat terbatas, sehingga sitem ini sangat tepat bila digunakan untuk keperluan pembelajaran dikelas, di rumah, di kantor atau di lembaga pendidikan lainnya. Disamping biaya pengadaannya tidak terlalu mahal, cara menggunakannya juga sangat mudah. Mulai dari guru sampai kepada siswa dapat mengoperasikannya. Mungkin satu-satunya kendala untuk menggunakan sistem ini dalam kegiatan pembelajaran adalah belum adanya kemauan untuk mencobanya. Nah, apabila Anda ingin mewujudkan sistem ini di sekolah yang Anda kelola, sesungguhnya tidaklah terlalu sulit dan tidak pula terlalu mahal? Untuk itu cukup diperlukan hal- hal sebagai berikut:

  1. Untuk satu sekolah cukup memiliki satu Video Tape Recorder (VTR) dan satu televisi berwarna ukuran 20".
  2. Satu ruangan khusus yang disebut ruang Audio-Visual. Disebut ruang Audio-Visual, karena ruang ini selain untuk keperluan pembelajaran melalui televisi, dapat pula dikembangkan untuk keperluan media Audio- Visual lainnya, seperti penayangan program slide suara, pembelajaran melalui komputer, dan sebagainya. Dengan demikian pemanfaatan ruangan akan sangat efektif. Untuk membuat ruang audio visual pada dasarnya tidaklah sulit. Sebab ruangan tersebut tidak perlu menggunakan meja dan kursi, sebagai gantinya cukup menggunakan karpet. Selain memberi kesan khusus juga akan membuat siswa lebih rileks pada saat menyaksikan program-program yang disajikan, atau pada saat mendiskusikan bagian-bagian tertentu dari program yang baru dilihatnya.
  3. Berbagai jenis program dari berbagai jenis mata pelajaran. Untuk program pembelajaran bisa memanfaatkan program yang pernah dikembangkan oleh Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), program produksi luar negeri  atau yang dibuat sendiri oleh guru sesuai dengan kebutuhan tujuan yang akan dicapai.
  4. Jadwal secara terpadu untuk mata pelajaran yang akan menggunakan program televisi. Selanjutnya berdasarkan jadwal tersebut guru beserta siswanya bergiliran menggunakan ruang Audio-Visual, sehingga dengan demikian pemanfaatan fasilitas yang tersedia akan menjadi efektif.

Close Circuit Television (CCTV), adalah suatu sistem distribusi gambar dan suara yang menggunakan rangkaian tertutup dan terbatas dalam satu area (lokasi) tertentu saja. Sistem ini dalam pengoperasiannya didukung oleh satu unit studio mini, dan sejumlah TV monitor yang ditempatkan di beberapa ruangan.  Melalui studio mini pesan didistribusikan melalui kabel kesetiap ruangan yang telah dilengkapi dengan TV monitor. Semakin banyak TV monitor yang digunakan, maka semakin besar jumlah sasaran yang dapat dilayani. Oleh karena itu secara teknis penggunaan CCTV sangat efektif untuk mengatasi kurangnya tenaga pengajar profesional, dan  mengatasi jumlah peserta yang cukup besar, serta   menyamakan kualitas “output” pembelajaran tertentu yang biasanya diajarkan oleh banyak pengajar. Adapun yang menjadi kelemahan sistem ini adalah proses penyampaian pesan cenderung satu arah serta pemberian umpan balik yang sifatnya tidak langsung (indirect feedback). Sehingga ada kecenderungan pada saat umpan balik diberikan terasa tidak relevan lagi. Selain itu umpan balik yang diberikan tidak mewakili kebutuhan banyak peserta.

TV Cable adalah satu sistem siaran yang menggunakan sambungan telepon atau melalui satlit, sehingga hanya pelanggan saja yang dapat mengakses program yang ditawarkan. Sistem ini sama seperti ketika RCTI mulai siaran, dimana hanya mereka yang berlangganan yang dapat menonton siaran RCTI, yaitu melalui fasilitas “decoder” yang dipasang pada pesawat televisi. Di Filipina, sistem ini digunakan untuk pembelajaran jarak jauh (distance learning). Dengan berlangga-nan para pelanggan dapat mengakses program pembelajaran yang diinginkan (sesuai dengan kurikulum yang ditawarkan). Di Indonesia sistem ini pernah dilakukan oleh DIKTI untuk tutorial jarak jauh yang waktu itu diberi nama SISDIKSAT (sistem pendidikan melalui satelit). Namun karena biaya operasional yang cukup tinggi, pelaksanaannya tidak diteruskan. Melihat sistem pengiriman pesan yang digunakan media televisi, kemudian kita berpikir sejenak, sistem mana yang tepat kita gunakan untuk kegiatan pembelajaran di sekolah? Dari semua sistem yang ada, sampai saat ini yang paling mungkin untuk digunakan untuk pembelajaran di sekolah (di kelas), yaitu sistem video. Selain pengoperasiannya yang mudah juga biaya pengadaannya relatif murah. Selanjutnya yang perlu dipikirkan adalah, bagaimana cara menggunakan  media ini dalam kegiatan pem-belajaran di kelas?


1 2 3 4 >>


 PROFIL KAMI

 STATISTIK

User Online : 1
Total hits : 962129
Pengunjung Hari ini :
Pengunjung Kemarin :
Pengunjung Bulan ini :
Pengunjung Tahun ini :
Total Pengunjung :

 KATA INSPIRASI

Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna. (Mohammad Hatta)