Penelitian Tindakan Sekolah


2014-05-10 12:15:55 | author : Singgih Trihastuti

RASIONAL

Penelitian tindakan (Action Research) dewasa ini merupakan penelitian yang paling banyak dilakukan dikalangan praktisi dan profesional, terutama digunakan untuk pemecahan permasalahan dan mutu diberbagai bidang. Penelitian ini merupakan penelitian terapan, yang bermafaat bagi praktisi untuk meningkatkan proses dan hasil suatu program kegiatan. Action Research dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran, yang dilakukan oleh pendidik (guru ditempat pembelajaran) dikenal dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Action Research dalam dunia pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam mengelola kegiatan sekolah disebut penelitian sekolah (PTS). PTS ini pun dapat dilakukan oleh para pengawas sekolah didaerah binaannya. Melalui PTK ataupun PTS ini permasalahan aktual yang ditemukan guru, kepala sekolah maupun pengawas di tempat kerja dapat dipecahkan.

Dilihat dari segi keuntungannya, penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang ideal untuk dilakukan guru, kepala sekolah maupun pengawas sekolah. Selain sebagai penelitian terapan, juga sekaligus merupakan penelitian yang dapat dilaksanakan oleh guru di kelasnya, sehingga guru tidak lagi perlu meninggalkan kelasnya. Begitu pula jika dilakukan PTS oleh Kepala sekolah, kepala sekolah tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTS yang dilakukan oleh pengawas juga tidak perlu meningggalakan tugas di daearah dampingannya. Dengan demikian guru dalam kegiatan PTK atau kepala sekolah dalam PTS, Pengawas dalam PTS; dapat berperan ganda yaitu sebagai praktisi, juga sekaligus sebagai peneliti pendidikan. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh guru melalui penelitian ini, antara lain:

  1. Guru/kepala sekolah/pengawas sekolah menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran, dan guru/ kepala sekolah reflektif dan kritis terhadap kegiatan di kelasnya (bagi guru). Bagi kepala sekolah peka dan tanggap terhadap dinamika sekolahnya. Sedang pengawas sekolah peka dan tanggap terhadap kegiatan di daerah binaannya atau daerh kerjanya.
  2. Guru/kepala sekolah/pengawas sekolah dapat meningkatan kinerjanya lebih profesional, karena akan selalu melakukan inovasi yang dilandasi dari hasil penelitian.
  3. Guru/kepala sekolah/pengawas sekolah dapat memperbaiki tahapan-tahapan program sesuai tupoksinya, melalui kajian aktual. Bagi guru dapat memperbaiki tahapan-tahapan program berkaitan dengan pembelajaran untuk mengantarkan kompetensi subjek belajar, melalui kajian aktual yang muncul di kelasnya. Bagi kepala sekolah dapat memperbaiki tahapan-tahapan program berkaitan dengan seluk beluk kepemimpinannya, melalui kajian aktual yang muncul di sekolah. Sedangkan bagi pengawas sekolah dapat memperbaiki tahapan-tahapan program pendampingan sekolah –sekolah, melalui kajian aktual yang muncul di di daerah binaan kepengawasannya.
  4. Guru/kepala sekolah/pengawas sekolah tidak terganggu tugasnya, dalam melakukan penelitian. PTK bagi guru, terintegrasi dengan pembelajaran yang dilakukan dikelasnya. PTS bagi kepala sekolah, terintegrasi dalam kepemimpinan yang dilakukan di sekolahnya. PTS bagi pengawas sekolah, terintegrasi dalam pendampingan di sekolah-sekolah binaannya.
  5. Guru/kepala sekolah/pengawas menjadi kreatif karena dituntut untuk melakukan inovasi.

Penerapan penelitian tindakan sekolah oleh kepala sekolah dan pengwas mempunyai makna yang sangat tinggi. Dengan penerapan PTS dapat mengembangkan keprofesioanalan secara berkelanjutan melalui kegiatan reflektif. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengembangan wawasan dan implementasi model penelitian ini, sehingga memungkinkan membudaya pada komunitas tenaga kependidikan tersebut.

Lingkup Penelitian Tindakan Sekolah

Apakah penelitian tindakan bermanfaat bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah? Sebenarnya penelitian tindakan dengan pengertian dan langkah dasarnya, dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Kepala sekolah mempunyai wilayah binaan di sekolahnya, dan pengawas sekolah juga memiliki wilayah binaan beberapa sekolah binannya. Untuk perbaikan proses dan hasil binaan tentunya harus dilakukan kegiatan refleksi dan perbaikan kinerja, yang dapat dilakukan melalui peneilitan tindakan.

Apakah lingkup penelitian tindakan sekolah itu ? Penelitian tindakan sekolah yang dimaksudkan untuk perbaikan kinerja, memiliki sasaran baik pada fenomema hasil kerja yang kurang menyenangkan, atau proses kinerja penyebab fenomena yang tidak menyenangkan tersebut. Seorang kepala sekolah dan pengawas sekolah mempunyai banyak fenomena hasil binaan yang menjadi masalah, seperti perencanaan pembelajaran/pelaksanaan pembelajaran/evaluasi pembelajaran oleh guru untuk terantarkan kompetesi subjek belajar belum berjalan dengan baik/belum bermutu atau belum sesuai standar nasional pendidikan. Kondisi permasalahan ini yang perlu diperbaiki oleh kepala sekolah dan pengawas. Kepala sekolah, disamping sebagai guru yang mempunyai permasalahan di pembelajaran, juga mempunyai masalah sebagai supervisor tenaga pendidik atau kependidikan di sekolahnya. Begitu juga dengan pengawas sekolah yang memiliki tugas sebagai supervisor pada sekolah-sekolah binaannya, tentunya permasalahannya menjadi semakin luas.

Tujuan dari penelitian tindakan sekolah adalah memperbaiki kondisi saat ini yang terjadi di sekolah (ini yang paling utama), meningkatkan mutu isi, masukan, proses, hasil pendidikan, manajemen dan pembelajaran termasuk mutu guru khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran yang mampu menciptakan siswa yang kreatif, inovatif, pemecah masalah, berpikir kritis, dan bernaluri kewirausahaan.

Perbedaan permasalahan ini, jika dikaitkan dengan penelitian tindakan, akan menunjukkan lingkup ruang penelitian yang berbeda dari ke tiganya (Guru, kepala sekolah dan pengawas). Adapun perbandingan ruang lingkup penelitian tindakan bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas disajikan seperti table berikut:

Table 1. Lingkup Penelitian Tindakan

 

Peneliti

Ruang lingkup penelitian

Subjek penelitian

Aspek yang diteliti

Penelitian Tindakan

Guru

Kelas

Murid

  • · Prestasi berlajar .
  • · Aktivitas belajar
  • · Motivasi belajar
  • · Dll

 

PTK (Penelitian Tindakan Kelas)

 

Kepala sekolah

Kelas

 

 

Murid

  • · Prestasi berlajar .
  • · Aktivitas belajar
  • · Motivasi belajar
  • · Dll

 

PTK (Penelitian Tindakan Kelas)

Sekolah

Guru

  • · Perencanaan pembelajaran
  • · Pelaksanaan pembelajaran
  • · Evaluasi pembelajaran
  • · Tindak lanjut pembelajaran
  • · Dll

 

PTS (Penelitian Tindakan Sekolah)  

 

Tenaga kependidikan

  • · Pengelolaan perpustakaan
  • · Pngelolaan keuangan
  • · Pengelolaan lingkungan
  • · dll

 

PTS (Penelitian Tindakan Sekolah)  

 

Penga was sekolah

Wilayah sekolah binaan

Guru

  • · Perencanaan pembelajaran
  • · Pelaksanaan pembelajaran
  • · Evaluasi pembelajaran
  • · Tindak lanjut pembelajaran
  • · dll

 

PTS (Penelitian Tindakan Sekolah)  

 

 

 

Kepala sekolah

  • · Pengelolaan sekolah
  • · Kepemimpinan kepala sekolah
  • · Adminsitrasi sekolah
  • · Dll

 

PTS (Penelitian Tindakan Sekolah)

 

 

 

Tenaga kependi dikan

  • · Perpustakaan sekolah
  • · Laboratorium sekolah
  • · Sarana sekolah
  • · Dll

 

PTS (Penelitian Tindakan Sekolah)

 

Manfaat Penelitian Tindakan Sekolah

Action Research atau Penelitian Tindakan pada dasarnya hanya menggimplementasikan suatu solusi yang sudah teruji kehandalannya. Misalnya memecahkan masalah dengan penggunaan metode tertentu. Sifat yang implementatif ini berakibat dalam penelitian tindakan kelas tidak akan dapat memunculkan teori baru, hanya menghasilkan cara dan saran dalam praktik pembelajaran dengan solusi tertentu saja.

Manfaat penelitian tindakan secara praktis, hanya bagi guru, murid, dan lebih luas pada sekolah. Peningkatan pada guru akan berdampak pada peningkatan jaringan sekolah yang lebih luas. Argumen Hopkins (1993), .. there is little school development without teacher development, and there is little teacher development without school development. Sedikit sekolah yang berkembang tanpa guru yang berkembang, dan sedikit guru yang berkembang tanpa sekolah yang berkembang. Disamping itu Hargreaves dalam Hopkins (1993), menyatakan sekolah yang berhasil mendorong terjadinya inovasi pada guru telah berhasil pula meningkatkan kualitas pendidikan untuk para siswanya.

 

KONSEP PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH, KARAKTERISTIK DAN MODEL PENELITIAN TINDAKAN

Ada beberapa definisi tentang penelitian tindakan: Elliot (1982), menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh prosesnya ----- telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengaruh ----- menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional.

Cogen dan Manion (1980), menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah intervensi sekala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut.

Kemmis dan Targart (1988), menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian reflektif diri kolektif, yang dilakukan oleh pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktik itu, dan terhadap situasi tempat dilakukannya praktik-praktik tersebut. Dari ketiga kutipan definisi di atas dapat diartikan bahwa : 1) hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, 2) penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang permasalahannya perlu dipecahkan, dan hasilnya diterapkan/ dipraktikkan.

Menurut Carr dan Kemmis (1991), … action research is a form of self-reflective enquiry undertaken by participants (teachers, students, or principals, for example) in social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice . . . . of (1) their own social or educational practices, (2) their understanding of this practices, and (3) the situation (and institutions) in which the practices are carried out. Definisi di atas mengandung pengertian bahwa penelitian tindakan adalah suatu bentuk inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh partisipan (guru, siswa, kepala sekolah dll) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran. Mills (2000) mendefinisikan penelitian tindakan sebagai inkuiri yang sistematik oleh guru, kepala sekolah, konselor dalam pengumpulan informasi praktik pembelajaran untuk digunakan sebagai refleksi dan pengembangan praktik reflektif yang mempunyai dampak pada hasil belajar.

 

Karakteristik Penelitian Tindakan

Ada sedikit yang membedakan penelitian tindakan dengan penelitian lainnya. PTS merupakan penelitian terapan, dimana hasilnya digunakan untuk diterapkan sebagai pengalaman praktis. Ada yang menyebutkan bahwa PTS mempunyai ciri seperti penelitian kualitatif dan eksperimen. Dikatakan kualitatif karena datanya tidak memerlukan perhitungan secara statistik, sedangkan dikatakan penelitian eksperimental karena diawali dengan perencanaan, perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi hasil yang dicapai setelah perlakuan.

Richart Winter menyebutkan adanya enam karakteristik penelitian tindakan, yaitu :

  1. Kritik refleksif; adalah adanya upaya evaluasi atau penilaian yang didasarkan catatan data yang telah dibuat, dan cara refleksi sehingga dapat ditransformasikan menjadi pertanyaaan dan alternatif yang mungkin dapat disarankan.
  2. Kritik dialektis; adalah adanya kesediaan peneliti untuk melakukan kritik pada fenomena yang ditelitinya. Dalam hal ini pelaku perlu menafsirkan data dengan konteks yang harus ada, menganalisis katagori yang berbeda untuk menemukan kesamaan, dan menangkap isyarat bahwa fenomena akan dapat berubah.
  3. Kolabortif; adalah adanya kerjasama (atasan, sejawat, siswa dll), yang dapat dipergunakan sebagai sudut pandang. Peneliti dalam penelitian tindakan adalah bagian dari situasi yang diteliti, peneliti sebagai pengamat juga terlibat langsung dalam proses situasi tersebut. Kolaborasi pada anggota dalam situasi itu yang memungkinkan proses itu berlangsung. Untuk menjamin kolaborasi perlu mengumpulkan semua sudut pandang anggota yang menggambarkan struktur situasi yang diteliti. Tetapi perlu diingat bahwa peneliti mempunyai kewenangan dalam penelitian, sehingga tidak mutlak semua pandangan harus digunakan.
  4. Resiko; adalah adanya keberanian peneliti untuk mengambil resiko pada waktu berlangsungnya penelitian. Resiko yang mungkin muncul adalah melesetnya hipotesis tindakan, dan kemungkinan tuntutan untuk melakukan transformasi. Peneliti mungkin berubah pandangannya, karena melihat sendiri pertentangan yang ada.
  5. Struktur majemuk; adalah adanya pandangan bahwa penelitian ini mencakup berbagai unsur yang terlibat, agar bersifat komprehensif. Misal jika penelitian pada pengajaran, maka situasinya harus mencakup guru, murid, tujuan pembelajaran, interaksi kelas, hasil dll.
  6. Internaslisasi teori dan praktik; adalah adanya pandangan bahwa teori dan praktgik bukan dua hal yang berbeda, tetapi merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling tergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung transformasi.

Dari karakteristik di atas menggambarkan bahwa penelitian tindakan ada perbedaan dengan penelitian lainnya. Secara praktis karakteristis dari penelitian tindakan adalah adanya permasalahan yang perlu diselesaikan, menemukan refleksi diri kinerja yang telah dilakukan dan menimbulkan permasalahan di atas, penelitian di lakukan di tempat kerja, dan digunakan sebagai perbaikan program yang dilakukan.

 

Model Penelitian Tindakan

Model penelitian tindakan yang kita kenal, antara lain : Model Kurt Lewin, Model Kemmis dan targart, Model John Elliott, dan Model Dave Ebbutt. Model Kurt Lewin menggambarkan dalam siklus terdapat empat langkah yaitu Planning (perencanaan), Acting (tindakan), Observing (pengamatan), dan Refelecting (refleksi).

Kemudian model Kurt Lewin ini dikembangkan oleh Kemmis dan Targart, dimana juga menggunakan 4 langkah tersebut, hanya saja sesudah suatu siklus diimplementasikan, kemudian diikuti dengan replanning (perencanan ulang). Demikian seterusnya satu siklus diikuti oleh siklus berikutnya, hingga permasalahan terpecahkan. Model John Elliott, lebih komplek dan ditail. Dalam tiap siklus memungkinkan terdiri dari beberapa tindakan, dan setiap tindakan memungkinkan terdiri dari beberapa langkah.Secara sederhana kita akan menggunakan model Kemmis dan Targart, karena model ini yang lebih mudah dan praktis. Secara skematis model

Kemmis dan Targart digambarkan sebagai berikut:

 

Langkah-langkah PTS bagi kepala sekolah tersebut sebagai berikut:

Siklus kesatu:  

  1.  

1. Perencanaan/planning:

} apa yang harus dilakukan objek, yang melakukan tindakan kepala sekolah/ madrasah;

} kapan dan berapa lama dilakukan;

} di mana dilakukan;

} fasilitas yang diperlukan; dan

} jika tindakan sudah selesai, apa tindak lanjutnya.

2. Pelaksanaan (Tindakan)/ Acting:

Implementasikan rencana dan perhatikan :

  • apakah ada kesesuaian antara pelaksanaan dengan perencanaan?.
  • bagaimana kelancaran proses tindakan yang dilakukan objek yang melakukan tindakan?,
  • bagaimanakah situasi proses tindakan?,
  • apakah objek yang melakukan tindakan mampu melaksanakan tindakan dengan penuh semangat?, dan
  • bagaimanakah hasil keseluruhan dari tindakan itu?

3. Pengamatan/ Observing

Amati unsur-unsur proses tindakan, dan perhatikan:

} antara pelaksanaan dengan pengamatan bukan urutan karena waktu terjadinya bersamaan.

} pengamatan harus menggunakan format pengamatan.

} akan lebih baik jika pengamatan dilengkapi video untuk merekam peristiwa ketika guru sedang mengajar misalnya, kemudian dibahas bersama ketika refleksi.

4. Refleksi/ Reflecting

Tahapan ini mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasakan data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya.

Siklus kedua 

} Kegiatan pada siklus kedua berupa kegiatan yang merupakan penyempurnaan dari kegiatan pada siklus kesatu

} Kepala sekolah/madrasah dapat melanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus kesatu.

 

Sistematika Proposal, Pelaksanaan dan Laporan PTS 

Sistematika Usulan/ Proposal Penelitian Tindakan Sekolah (PTS):

  1. Judul Penelitian
  2. Bab Pendahuluan: (a) Latar Belakang Masalah (b) Perumusan Masalah, (c) Hipotesis Tindakan (kalau perlu), dan Cara Pemecahan Masalah ((kalau perlu) (d) Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutama: potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi, proses, masukan, atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan).
  3. Bab Kajian / Tinjauan Pustaka yang menguraikan kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan penelitian tindakan
  4. Bab Metode Penelitian yang menjelaskan tentang Rencana dan Prosedur Penelitian (terutama: prosedur diagnosis masalah, perencanaan tindakan, prosedur pelaksanaan tindakan, prosedur observasi dan evaluasi, prosedur refleksi hasil penelitian).
  5. Jadwal, Daftar Pustaka,

Pelaksanaan PTS:

Kegiatan Pengamatan

  1. Si peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan terjadi selama pekasanaan tindakan berlangsung.
  2. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, hasil kuis, presensi, nilai tugas, dan lain-lain) tetapi juga data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, atusias mereka, mutu diskusi yang dilakukan, dan lain-lain.

Indikator Keberhasilan

  1. Kegiatan pengamatan pada hakikatnya dilakukan untuk dapat mengetahui apakah tujuan PTS tercapai atau belum.
  2. Untuk itu sangat penting untuk menjabarkan terlebih dahulu apa indikator utama dari kegiatan PTS yang dirancangkan

Kegiatan Refleksi

  1. Merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan dari tindakan yang telah dilakukan.
  2. Menjawab tentang penyebab situasi dan kondisi yang terjadi selama pelaksanaan tindakan.
  3. Memperkirakan solusi atau keluhan yang muncul
  4. Mengidentifikasi kendala/ancaman yang mungkin dihadapi.
  1. Memperkirakan akibat dan implikasi dari tindakan yang direncanakan.

 

Sistematika Laporan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS):

Bagian Awal

  1. halaman judul;
  2. lembaran persetujuan dan pernyataan yang menyatakan keaslian tulisan dari si penulis;
  3. pernyataan dari perpustakaan yang menyatakan bahwa makalah tersebut telah disimpan diperpustakannya,
  4. pernyataan keaslian tulisan yang dibuat dan ditandatangi oleh penulis,
  5. kata pengantar;
  6. daftar isi, (bila ada : daftar label, daftar gambar dan daftar lampiran), serta
  7. abstrak atau ringkasan.

Bagian Isi

Bab I Pendahuluan: Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian

Bab II Kajian / Tinjauan Pustaka: uraian tentang kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan (khususnya kajian teori yang berkaitan dengan macam tindakan yang akan dilakukan),

Bab III Metode Penelitian menjelaskan tentang prosedur penelitian (terutama: prosedur diagnosis masalah, penjelasan rinci tentang perencanaan dan pelaksanaan tindakan, prosedur pelaksanaan tindakan, prosedur observasi dan evaluasi, prosedur refleksi , serta hasil penelitian).

Bab IV Hasil penelitian: pendapat peneliti tentang plus minus tindakan serta kemungkinannya untuk diterapkan

Bab V Simpulan dan Saran-Saran.

Bagian Penunjang yang pada umumnya terdiri dari sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang diperlukan untuk menunjang isi laporan.

Lampiran yang disertakan adalah (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, (b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

 

Lampiran PTS –“ Wajib Ada”

Laporan PTS wajib melampirkan

(a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, kuisener, tes, dan lain-lain

(b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen

(c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, cacatan harian dalam pelaksanaan PTS, surat ijin, dan lain-lain.

Laporan PTS yang “kurang” memenuhi syarat

  1. tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan,
  2. juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuan siklus-siklus berikutnya.

RASIONAL

Penelitian tindakan (Action Research) dewasa ini merupakan penelitian yang paling banyak dilakukan dikalangan praktisi dan profesional, terutama digunakan untuk pemecahan permasalahan dan mutu diberbagai bidang. Penelitian ini merupakan penelitian terapan, yang bermafaat bagi praktisi untuk meningkatkan proses dan hasil suatu program kegiatan. Action Research dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kegiatan pembelajaran, yang dilakukan oleh pendidik (guru ditempat pembelajaran) dikenal dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Action Research dalam dunia pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam mengelola kegiatan sekolah disebut penelitian sekolah (PTS). PTS ini pun dapat dilakukan oleh para pengawas sekolah didaerah binaannya. Melalui PTK ataupun PTS ini permasalahan aktual yang ditemukan guru, kepala sekolah maupun pengawas di tempat kerja dapat dipecahkan.

Dilihat dari segi keuntungannya, penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang ideal untuk dilakukan guru, kepala sekolah maupun pengawas sekolah. Selain sebagai penelitian terapan, juga sekaligus merupakan penelitian yang dapat dilaksanakan oleh guru di kelasnya, sehingga guru tidak lagi perlu meninggalkan kelasnya. Begitu pula jika dilakukan PTS oleh Kepala sekolah, kepala sekolah tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTS yang dilakukan oleh pengawas juga tidak perlu meningggalakan tugas di daearah dampingannya. Dengan demikian guru dalam kegiatan PTK atau kepala sekolah dalam PTS, Pengawas dalam PTS; dapat berperan ganda yaitu sebagai praktisi, juga sekaligus sebagai peneliti pendidikan. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh guru melalui penelitian ini, antara lain:

  1. Guru/kepala sekolah/pengawas sekolah menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran, dan guru/ kepala sekolah reflektif dan kritis terhadap kegiatan di kelasnya (bagi guru). Bagi kepala sekolah peka dan tanggap terhadap dinamika sekolahnya. Sedang pengawas sekolah peka dan tanggap terhadap kegiatan di daerah binaannya atau daerh kerjanya.
  2. Guru/kepala sekolah/pengawas sekolah dapat meningkatan kinerjanya lebih profesional, karena akan selalu melakukan inovasi yang dilandasi dari hasil penelitian.
  3. Guru/kepala sekolah/pengawas sekolah dapat memperbaiki tahapan-tahapan program sesuai tupoksinya, melalui kajian aktual. Bagi guru dapat memperbaiki tahapan-tahapan program berkaitan dengan pembelajaran untuk mengantarkan kompetensi subjek belajar, melalui kajian aktual yang muncul di kelasnya. Bagi kepala sekolah dapat memperbaiki tahapan-tahapan program berkaitan dengan seluk beluk kepemimpinannya, melalui kajian aktual yang muncul di sekolah. Sedangkan bagi pengawas sekolah dapat memperbaiki tahapan-tahapan program pendampingan sekolah –sekolah, melalui kajian aktual yang muncul di di daerah binaan kepengawasannya.
  4. Guru/kepala sekolah/pengawas sekolah tidak terganggu tugasnya, dalam melakukan penelitian. PTK bagi guru, terintegrasi dengan pembelajaran yang dilakukan dikelasnya. PTS bagi kepala sekolah, terintegrasi dalam kepemimpinan yang dilakukan di sekolahnya. PTS bagi pengawas sekolah, terintegrasi dalam pendampingan di sekolah-sekolah binaannya.
  5. Guru/kepala sekolah/pengawas menjadi kreatif karena dituntut untuk melakukan inovasi.

Penerapan penelitian tindakan sekolah oleh kepala sekolah dan pengwas mempunyai makna yang sangat tinggi. Dengan penerapan PTS dapat mengembangkan keprofesioanalan secara berkelanjutan melalui kegiatan reflektif. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengembangan wawasan dan implementasi model penelitian ini, sehingga memungkinkan membudaya pada komunitas tenaga kependidikan tersebut.

Lingkup Penelitian Tindakan Sekolah

Apakah penelitian tindakan bermanfaat bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah? Sebenarnya penelitian tindakan dengan pengertian dan langkah dasarnya, dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Kepala sekolah mempunyai wilayah binaan di sekolahnya, dan pengawas sekolah juga memiliki wilayah binaan beberapa sekolah binannya. Untuk perbaikan proses dan hasil binaan tentunya harus dilakukan kegiatan refleksi dan perbaikan kinerja, yang dapat dilakukan melalui peneilitan tindakan.

Apakah lingkup penelitian tindakan sekolah itu ? Penelitian tindakan sekolah yang dimaksudkan untuk perbaikan kinerja, memiliki sasaran baik pada fenomema hasil kerja yang kurang menyenangkan, atau proses kinerja penyebab fenomena yang tidak menyenangkan tersebut. Seorang kepala sekolah dan pengawas sekolah mempunyai banyak fenomena hasil binaan yang menjadi masalah, seperti perencanaan pembelajaran/pelaksanaan pembelajaran/evaluasi pembelajaran oleh guru untuk terantarkan kompetesi subjek belajar belum berjalan dengan baik/belum bermutu atau belum sesuai standar nasional pendidikan. Kondisi permasalahan ini yang perlu diperbaiki oleh kepala sekolah dan pengawas. Kepala sekolah, disamping sebagai guru yang mempunyai permasalahan di pembelajaran, juga mempunyai masalah sebagai supervisor tenaga pendidik atau kependidikan di sekolahnya. Begitu juga dengan pengawas sekolah yang memiliki tugas sebagai supervisor pada sekolah-sekolah binaannya, tentunya permasalahannya menjadi semakin luas.

Tujuan dari penelitian tindakan sekolah adalah memperbaiki kondisi saat ini yang terjadi di sekolah (ini yang paling utama), meningkatkan mutu isi, masukan, proses, hasil pendidikan, manajemen dan pembelajaran termasuk mutu guru khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran yang mampu menciptakan siswa yang kreatif, inovatif, pemecah masalah, berpikir kritis, dan bernaluri kewirausahaan.

Perbedaan permasalahan ini, jika dikaitkan dengan penelitian tindakan, akan menunjukkan lingkup ruang penelitian yang berbeda dari ke tiganya (Guru, kepala sekolah dan pengawas). Adapun perbandingan ruang lingkup penelitian tindakan bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas disajikan seperti table berikut:

Table 1. Lingkup Penelitian Tindakan

 

Peneliti

Ruang lingkup penelitian

Subjek penelitian

Aspek yang diteliti

Penelitian Tindakan

Guru

Kelas

Murid

  • · Prestasi berlajar .
  • · Aktivitas belajar
  • · Motivasi belajar
  • · Dll

 

PTK (Penelitian Tindakan Kelas)

 

Kepala sekolah

Kelas

 

 

Murid

  • · Prestasi berlajar .
  • · Aktivitas belajar
  • · Motivasi belajar
  • · Dll

 

PTK (Penelitian Tindakan Kelas)

Sekolah

Guru

  • · Perencanaan pembelajaran
  • · Pelaksanaan pembelajaran
  • · Evaluasi pembelajaran
  • · Tindak lanjut pembelajaran
  • · Dll

 

PTS (Penelitian Tindakan Sekolah)  

 

Tenaga kependidikan

  • · Pengelolaan perpustakaan
  • · Pngelolaan keuangan
  • · Pengelolaan lingkungan
  • · dll

 

PTS (Penelitian Tindakan Sekolah)  

 

Penga was sekolah

Wilayah sekolah binaan

Guru

  • · Perencanaan pembelajaran
  • · Pelaksanaan pembelajaran
  • · Evaluasi pembelajaran
  • · Tindak lanjut pembelajaran
  • · dll

 

PTS (Penelitian Tindakan Sekolah)  

 

 

 

Kepala sekolah

  • · Pengelolaan sekolah
  • · Kepemimpinan kepala sekolah
  • · Adminsitrasi sekolah
  • · Dll

 

PTS (Penelitian Tindakan Sekolah)

 

 

 

Tenaga kependi dikan

  • · Perpustakaan sekolah
  • · Laboratorium sekolah
  • · Sarana sekolah
  • · Dll

 

PTS (Penelitian Tindakan Sekolah)

 

Manfaat Penelitian Tindakan Sekolah

Action Research atau Penelitian Tindakan pada dasarnya hanya menggimplementasikan suatu solusi yang sudah teruji kehandalannya. Misalnya memecahkan masalah dengan penggunaan metode tertentu. Sifat yang implementatif ini berakibat dalam penelitian tindakan kelas tidak akan dapat memunculkan teori baru, hanya menghasilkan cara dan saran dalam praktik pembelajaran dengan solusi tertentu saja.

Manfaat penelitian tindakan secara praktis, hanya bagi guru, murid, dan lebih luas pada sekolah. Peningkatan pada guru akan berdampak pada peningkatan jaringan sekolah yang lebih luas. Argumen Hopkins (1993), .. there is little school development without teacher development, and there is little teacher development without school development. Sedikit sekolah yang berkembang tanpa guru yang berkembang, dan sedikit guru yang berkembang tanpa sekolah yang berkembang. Disamping itu Hargreaves dalam Hopkins (1993), menyatakan sekolah yang berhasil mendorong terjadinya inovasi pada guru telah berhasil pula meningkatkan kualitas pendidikan untuk para siswanya.

 

KONSEP PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH, KARAKTERISTIK DAN MODEL PENELITIAN TINDAKAN

Ada beberapa definisi tentang penelitian tindakan: Elliot (1982), menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh prosesnya ----- telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengaruh ----- menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional.

Cogen dan Manion (1980), menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah intervensi sekala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut.

Kemmis dan Targart (1988), menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian reflektif diri kolektif, yang dilakukan oleh pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktik itu, dan terhadap situasi tempat dilakukannya praktik-praktik tersebut. Dari ketiga kutipan definisi di atas dapat diartikan bahwa : 1) hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, 2) penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang permasalahannya perlu dipecahkan, dan hasilnya diterapkan/ dipraktikkan.

Menurut Carr dan Kemmis (1991), … action research is a form of self-reflective enquiry undertaken by participants (teachers, students, or principals, for example) in social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice . . . . of (1) their own social or educational practices, (2) their understanding of this practices, and (3) the situation (and institutions) in which the practices are carried out. Definisi di atas mengandung pengertian bahwa penelitian tindakan adalah suatu bentuk inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh partisipan (guru, siswa, kepala sekolah dll) dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran. Mills (2000) mendefinisikan penelitian tindakan sebagai inkuiri yang sistematik oleh guru, kepala sekolah, konselor dalam pengumpulan informasi praktik pembelajaran untuk digunakan sebagai refleksi dan pengembangan praktik reflektif yang mempunyai dampak pada hasil belajar.

 

Karakteristik Penelitian Tindakan

Ada sedikit yang membedakan penelitian tindakan dengan penelitian lainnya. PTS merupakan penelitian terapan, dimana hasilnya digunakan untuk diterapkan sebagai pengalaman praktis. Ada yang menyebutkan bahwa PTS mempunyai ciri seperti penelitian kualitatif dan eksperimen. Dikatakan kualitatif karena datanya tidak memerlukan perhitungan secara statistik, sedangkan dikatakan penelitian eksperimental karena diawali dengan perencanaan, perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi hasil yang dicapai setelah perlakuan.

Richart Winter menyebutkan adanya enam karakteristik penelitian tindakan, yaitu :

  1. Kritik refleksif; adalah adanya upaya evaluasi atau penilaian yang didasarkan catatan data yang telah dibuat, dan cara refleksi sehingga dapat ditransformasikan menjadi pertanyaaan dan alternatif yang mungkin dapat disarankan.
  2. Kritik dialektis; adalah adanya kesediaan peneliti untuk melakukan kritik pada fenomena yang ditelitinya. Dalam hal ini pelaku perlu menafsirkan data dengan konteks yang harus ada, menganalisis katagori yang berbeda untuk menemukan kesamaan, dan menangkap isyarat bahwa fenomena akan dapat berubah.
  3. Kolabortif; adalah adanya kerjasama (atasan, sejawat, siswa dll), yang dapat dipergunakan sebagai sudut pandang. Peneliti dalam penelitian tindakan adalah bagian dari situasi yang diteliti, peneliti sebagai pengamat juga terlibat langsung dalam proses situasi tersebut. Kolaborasi pada anggota dalam situasi itu yang memungkinkan proses itu berlangsung. Untuk menjamin kolaborasi perlu mengumpulkan semua sudut pandang anggota yang menggambarkan struktur situasi yang diteliti. Tetapi perlu diingat bahwa peneliti mempunyai kewenangan dalam penelitian, sehingga tidak mutlak semua pandangan harus digunakan.
  4. Resiko; adalah adanya keberanian peneliti untuk mengambil resiko pada waktu berlangsungnya penelitian. Resiko yang mungkin muncul adalah melesetnya hipotesis tindakan, dan kemungkinan tuntutan untuk melakukan transformasi. Peneliti mungkin berubah pandangannya, karena melihat sendiri pertentangan yang ada.
  5. Struktur majemuk; adalah adanya pandangan bahwa penelitian ini mencakup berbagai unsur yang terlibat, agar bersifat komprehensif. Misal jika penelitian pada pengajaran, maka situasinya harus mencakup guru, murid, tujuan pembelajaran, interaksi kelas, hasil dll.
  6. Internaslisasi teori dan praktik; adalah adanya pandangan bahwa teori dan praktgik bukan dua hal yang berbeda, tetapi merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling tergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung transformasi.

Dari karakteristik di atas menggambarkan bahwa penelitian tindakan ada perbedaan dengan penelitian lainnya. Secara praktis karakteristis dari penelitian tindakan adalah adanya permasalahan yang perlu diselesaikan, menemukan refleksi diri kinerja yang telah dilakukan dan menimbulkan permasalahan di atas, penelitian di lakukan di tempat kerja, dan digunakan sebagai perbaikan program yang dilakukan.

 

Model Penelitian Tindakan

Model penelitian tindakan yang kita kenal, antara lain : Model Kurt Lewin, Model Kemmis dan targart, Model John Elliott, dan Model Dave Ebbutt. Model Kurt Lewin menggambarkan dalam siklus terdapat empat langkah yaitu Planning (perencanaan), Acting (tindakan), Observing (pengamatan), dan Refelecting (refleksi).

Kemudian model Kurt Lewin ini dikembangkan oleh Kemmis dan Targart, dimana juga menggunakan 4 langkah tersebut, hanya saja sesudah suatu siklus diimplementasikan, kemudian diikuti dengan replanning (perencanan ulang). Demikian seterusnya satu siklus diikuti oleh siklus berikutnya, hingga permasalahan terpecahkan. Model John Elliott, lebih komplek dan ditail. Dalam tiap siklus memungkinkan terdiri dari beberapa tindakan, dan setiap tindakan memungkinkan terdiri dari beberapa langkah.Secara sederhana kita akan menggunakan model Kemmis dan Targart, karena model ini yang lebih mudah dan praktis. Secara skematis model

Kemmis dan Targart digambarkan sebagai berikut:

 

Langkah-langkah PTS bagi kepala sekolah tersebut sebagai berikut:

Siklus kesatu:  

  1.  

1. Perencanaan/planning:

} apa yang harus dilakukan objek, yang melakukan tindakan kepala sekolah/ madrasah;

} kapan dan berapa lama dilakukan;

} di mana dilakukan;

} fasilitas yang diperlukan; dan

} jika tindakan sudah selesai, apa tindak lanjutnya.

2. Pelaksanaan (Tindakan)/ Acting:

Implementasikan rencana dan perhatikan :

  • apakah ada kesesuaian antara pelaksanaan dengan perencanaan?.
  • bagaimana kelancaran proses tindakan yang dilakukan objek yang melakukan tindakan?,
  • bagaimanakah situasi proses tindakan?,
  • apakah objek yang melakukan tindakan mampu melaksanakan tindakan dengan penuh semangat?, dan
  • bagaimanakah hasil keseluruhan dari tindakan itu?

3. Pengamatan/ Observing

Amati unsur-unsur proses tindakan, dan perhatikan:

} antara pelaksanaan dengan pengamatan bukan urutan karena waktu terjadinya bersamaan.

} pengamatan harus menggunakan format pengamatan.

} akan lebih baik jika pengamatan dilengkapi video untuk merekam peristiwa ketika guru sedang mengajar misalnya, kemudian dibahas bersama ketika refleksi.

4. Refleksi/ Reflecting

Tahapan ini mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasakan data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya.

Siklus kedua 

} Kegiatan pada siklus kedua berupa kegiatan yang merupakan penyempurnaan dari kegiatan pada siklus kesatu

} Kepala sekolah/madrasah dapat melanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus kesatu.

 

Sistematika Proposal, Pelaksanaan dan Laporan PTS 

Sistematika Usulan/ Proposal Penelitian Tindakan Sekolah (PTS):

  1. Judul Penelitian
  2. Bab Pendahuluan: (a) Latar Belakang Masalah (b) Perumusan Masalah, (c) Hipotesis Tindakan (kalau perlu), dan Cara Pemecahan Masalah ((kalau perlu) (d) Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian (terutama: potensi untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas isi, proses, masukan, atau hasil pembelajaran dan/atau pendidikan).
  3. Bab Kajian / Tinjauan Pustaka yang menguraikan kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan penelitian tindakan
  4. Bab Metode Penelitian yang menjelaskan tentang Rencana dan Prosedur Penelitian (terutama: prosedur diagnosis masalah, perencanaan tindakan, prosedur pelaksanaan tindakan, prosedur observasi dan evaluasi, prosedur refleksi hasil penelitian).
  5. Jadwal, Daftar Pustaka,

Pelaksanaan PTS:

Kegiatan Pengamatan

  1. Si peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan terjadi selama pekasanaan tindakan berlangsung.
  2. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, hasil kuis, presensi, nilai tugas, dan lain-lain) tetapi juga data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, atusias mereka, mutu diskusi yang dilakukan, dan lain-lain.

Indikator Keberhasilan

  1. Kegiatan pengamatan pada hakikatnya dilakukan untuk dapat mengetahui apakah tujuan PTS tercapai atau belum.
  2. Untuk itu sangat penting untuk menjabarkan terlebih dahulu apa indikator utama dari kegiatan PTS yang dirancangkan

Kegiatan Refleksi

  1. Merenungkan kembali mengenai kekuatan dan kelemahan dari tindakan yang telah dilakukan.
  2. Menjawab tentang penyebab situasi dan kondisi yang terjadi selama pelaksanaan tindakan.
  3. Memperkirakan solusi atau keluhan yang muncul
  4. Mengidentifikasi kendala/ancaman yang mungkin dihadapi.
  1. Memperkirakan akibat dan implikasi dari tindakan yang direncanakan.

 

Sistematika Laporan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS):

Bagian Awal

  1. halaman judul;
  2. lembaran persetujuan dan pernyataan yang menyatakan keaslian tulisan dari si penulis;
  3. pernyataan dari perpustakaan yang menyatakan bahwa makalah tersebut telah disimpan diperpustakannya,
  4. pernyataan keaslian tulisan yang dibuat dan ditandatangi oleh penulis,
  5. kata pengantar;
  6. daftar isi, (bila ada : daftar label, daftar gambar dan daftar lampiran), serta
  7. abstrak atau ringkasan.

Bagian Isi

Bab I Pendahuluan: Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian

Bab II Kajian / Tinjauan Pustaka: uraian tentang kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan (khususnya kajian teori yang berkaitan dengan macam tindakan yang akan dilakukan),

Bab III Metode Penelitian menjelaskan tentang prosedur penelitian (terutama: prosedur diagnosis masalah, penjelasan rinci tentang perencanaan dan pelaksanaan tindakan, prosedur pelaksanaan tindakan, prosedur observasi dan evaluasi, prosedur refleksi , serta hasil penelitian).

Bab IV Hasil penelitian: pendapat peneliti tentang plus minus tindakan serta kemungkinannya untuk diterapkan

Bab V Simpulan dan Saran-Saran.

Bagian Penunjang yang pada umumnya terdiri dari sajian daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang diperlukan untuk menunjang isi laporan.

Lampiran yang disertakan adalah (a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, (b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa, (c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.

 

Lampiran PTS –“ Wajib Ada”

Laporan PTS wajib melampirkan

(a) semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan, kuisener, tes, dan lain-lain

(b) contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen

(c) dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, cacatan harian dalam pelaksanaan PTS, surat ijin, dan lain-lain.

Laporan PTS yang “kurang” memenuhi syarat

  1. tidak jelas apa, bagaimana dan mengapa kegiatan tindakan yang dilakukan,
  2. juga tidak jelas bagaimana peran hasil evaluasi dan refleksi pada penentuan siklus-siklus berikutnya.

1 2 3 4 >>


 PROFIL KAMI

 STATISTIK

User Online : 1
Total hits : 962143
Pengunjung Hari ini :
Pengunjung Kemarin :
Pengunjung Bulan ini :
Pengunjung Tahun ini :
Total Pengunjung :

 KATA INSPIRASI

Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna. (Mohammad Hatta)