Sastra Sebagai Wahana Memupuk Nasionalisme Siswa


2014-04-20 14:52:04 | author : admin

Menjelang bulan Agustus yang merupakan bulan peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia sepertinya menjadi saat yang tepat bagi kita semua untuk melihat kembali ke dalam nurani kita masing-masing -- masih adakah atau masih sedalam apakah nasionalisme yang kita miliki bagi bangsa ini? Di tengah keterpurukan kondisi bangsa, nasionalisme sangat dibutuhkan untuk membangkitkan kembali bangsa ini. Ya, nasionalisme diyakini sebagai syarat mutlak untuk membentuk sebuah negara yang mandiri. Paham kebangsaan ini menjadi tolok ukur kemajuan dan kemandirian Bangsa Indonesia ke depan.

Nasionalisme adalah sikap atau perilaku yang diwujudkan atau diaktualisasikan dalam bentuk tindakan untuk memelihara dan melestarikan identitas dan untuk terus berjuang memajukan bangsa dan negara, dengan membasmi setiap kendala yang menghalangi di jalan kemajuan. Nasionalisme adalah rasa cinta setiap elemen bangsa kepada tanah air, yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin nasionalis, seseorang akan semakin mengutamakan kepentingan bangsa dibandingkan kepentingan kelompok atau pribadi.

Namun, apa yang kita lihat dan kita dengar selama beberapa tahun terakhir, mungkin membuat kita kembali harus merenungi makna nasionalisme di atas. Kecintaan terhadap negara Indonesia mengalami penyusutan luar biasa. Tak hanya di kalangan generasi muda, bahkan di tingkat elite pun nasionalisme kian pudar. Hal ini terlihat dari sikap para elite (politik) yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Selain itu, kita juga merasakan bahwa ada kecenderungan yang muncul, yang menampilkan bahwa semangat solidaritas dan kebersamaan pun terasa semakin hilang.

Melihat kondisi tersebut, maka diperlukan upaya untuk menumbuhkan dan memupuk rasa nasionalisme bagi Bangsa Indonesia. Sejalan dengan dicanangkannya pendidikan karakter, maka karakter nasionalisme (cinta tanah air dan semangat kebangsaan) pun ikut dimasukkan sebagai nilai karakter yang harus dikembangkan pada generasi muda.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan dan memupuk rasa nasionalisme ini adalah melalui kegiatan apresiasi sastra, yang merupakan bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia. Karya-karya sastra dapat digunakan sebagai pembangkit rasa nasionalisme. Mungkin, anggapan yang selama ini banyak berkembang adalah bahwa karya sastra hanya fiktif belaka, hanya bersifat imajinatif sehingga tidak layak untuk menjadi bahan ajar. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah. Namun, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa karya sastra, baik novel maupun puisi, bisa memengaruhi pikiran dan sikap pembaca (warga negara). Sastra banyak menawarkan pemikiran dan pembelajaran dengan cara yang unik.

Sebagai contoh mari kita simak kutipan cerpen berikut.

"Apa katamu? Sakit telingamu mendengarnya? Itu artinya kau tidak cinta pada Tanah Airmu!"

"Tetapi, tidak saatnya lagu kebangsaan itu diputar sekarang!"

"Sekarang adalah saat yang tepat! Tidak kau lihat mereka sudah mulai berkelahi. Masing-masing telah meminta lagu daerah mereka sendiri-sendiri."

"Tetapi, telingaku sakit mendengar lagu Indonesia Raya itu."

"Berarti kau dari jenis para pengkhianat! Sebaiknya kau keluar dari dalam bus ini!"

"Tetapi...," kata orang berseragam hijau dengan tiga pucuk pistol.

"Tetapi, kau sudah membayar ongkos? Itu yang mau kau katakan," kata orang yang berseragam hijau dengan dua pistol di pinggangnya.

"Ya! Aku sudah membayar ongkos!"

"Saya akan ganti uang sisa ongkos perjalananmu. Lagu Indonesia Raya ini harus berkumandang sampai tujuan akhir. Kalau kau tidak suka, kau boleh keluar dari dalam bus ini! Tak ada tempat bagi yang tidak suka lagu kebangsaannya sendiri."

Cerita di atas merupakan kutipan dari cerpen "Lagu di Atas Bus" karya Hamsad Rangkuti. Cerpen tersebut menceritakan perjalanan sebuah bus malam bersama penumpangnya menuju suatu tujuan. Untuk memberikan kenyamanan dan hiburan bagi penumpangnya, sopir bus akhirnya memutarkan sebuah lagu. Tetapi, belum sampai lagu itu selesai ada penumpang yang minta lagunya diganti dengan lagu kesukaannya. Sang sopir pun segera menggantinya. Namun, belum lagi lagu itu selesai, penumpang lain minta lagu tersebut diganti dengan lagu kesukaannya. Begitu seterusnya. Masing-masing penumpang menyodorkan lagu kesukaannya. Mulai dari lagu berirama jazz, dangdut, keroncong, pop, Gending Jawa, Kacapi Sunda, Saluang Minang, dan sebagainya, yang akhirnya menimbulkan keributan antarpenumpang bus. Di tengah keributan tersebut, seorang penumpang meminta sopir bus untuk memutar lagu Indonesia Raya. Semua penumpang terkejut, bahkan ada yang tidak suka. Tetapi, tidak dapat tidak, Lagu Indonesia Raya-lah yang bisa mewadahi keinginan semua untuk diputar dan didengarkan selama perjalanan.

Cerpen di atas cukup menarik. Hamsad Rangkuti menggunakan "bus" sebagai metafor negara Indonesia, dan "penumpang bus" sebagai warga negaranya. Adapun "perjalanan bus malam" merupakan metafor dari perjalanan bangsa ini. Cerpen ini mengusung pesan bahwa sebagai warga negara Indonesia, kita harus mencintai tanah air Indonesia. Ketika muncul perbedaan keinginan, maka harus dikembalikan kepada hal yang dapat mewadahi keinginan semua, dalam hal ini mengutamakan kepentingan bangsa.

Contoh lain, misalnya adalah puisi berikut.

INDONESIA, MASIHKAH ENGKAU TANAH AIRKU?

karya Husni Djamaluddin

Indonesia tanah airku

tanah tumpah darahku

di sanalah aku digusur

dari tanah leluhur

Indonesia tanah airku

tanah tumpah darahku

di sanalah airku dikemas

dalam botol-botol aqua

 

Indonesia tanah airku

di sanalah aku berdiri

jadi kuli sepanjang hari

jadi satpam sepanjang malam

Indonesia tanah airku

Indonesia di manakah tanahku

Indonesia tanah airku

Indonesia di manakah airku

Indonesia tanah airku

tanah bukan tanahku

Indonesia tanah airku

air bukan airku

Indonesia, masihkah engkau tanah airku?

Tuhan, jangan cabut Indonesiaku

dari dalam hatiku

Puisi di atas menggambarkan kekecewaan berkepanjangan 'seorang' warga negara Indonesia terhadap negara Indonesia. Hal ini terlihat dalam hampir keseluruhan bait-bait puisi tersebut. Namun, pada bait terakhir 'seseorang' tersebut tetap berdoa agar tanah air Indonesia tetap menjadi cintanya. Pesan yang diusung puisi ini kurang lebih adalah bagaimanapun atau apa pun yang diberikan Bangsa Indonesia kepada kita (warga negaranya), kita harus tetap mencintainya.

Dari kedua contoh karya di atas, jelas dapat dilihat bahwa karya sastra dapat digunakan sebagai wahana memupuk rasa nasionalisme kepada generasi muda (siswa). Tentu saja masih banyak karya yang lain, misalnya Burung-burung Manyar (novel -- Mangunwijaya), Bumi Manusia (novel -- Pramoedya Ananta Toer), Kembalikan Indonesia Padaku (puisi -- Taufik Ismail), Malu Aku Jadi Orang Indonesia (puisi -- Taufik Ismail), Tanah Airmata (puisi -- Sutardji Calzoum Bachri), dan masih banyak lagi.

Dengan sastra, kita tidak hanya belajar nilai-nilai kekinian, tetapi juga menelusuri perjalanan bangsa di masa lalu. Lebih jauh lagi, apresiasi terhadap sastra yang bertema nasionalisme dapat meningkatkan rasa nasionalisme karena dengan demikian kita dapat mengenal jatuh bangunnya sebuah bangsa. Upaya ini akan berhasil dengan baik bila didukung dengan kegiatan apresiasi yang menarik. Untuk itu, guru Bahasa Indonesia dan (sastra) harus pandai mengemas kegiatan bersastra dan juga pandai memilih bahan ajar (sastra) yang tepat. Salam.

Diambil dan disunting dari situs: BektiPatria.wordpress.com Alamat URL: http://bektipatria.wordpress.com


1 2 3 4 >>


 PROFIL KAMI

 STATISTIK

User Online : 1
Total hits : 963302
Pengunjung Hari ini :
Pengunjung Kemarin :
Pengunjung Bulan ini :
Pengunjung Tahun ini :
Total Pengunjung :

 KATA INSPIRASI

Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna. (Mohammad Hatta)